Adapun target harga rata-rata (12-month target price) saham BBNI berada di level sekitar Rp5.035 per saham, lebih tinggi dibandingkan harga terakhir Rp4.290.
Dengan demikian, saham bank BUMN tersebut masih memiliki potensi kenaikan (return potential) sekitar 17,4% dalam setahun ke depan.
Sejumlah sekuritas global maupun domestik mempertahankan pandangan positif terhadap saham BBNI.
Misalkan, analis dari Maybank Investment dan UBS sama-sama memberikan rekomendasi buy dengan target harga masing-masing sekitar Rp5.000 hingga Rp5.300 per saham.
Sementara itu, analis dari Citi bahkan memasang target harga lebih tinggi di level Rp5.400 per saham.
Di sisi lain, beberapa lembaga seperti DBS Bank memilih rekomendasi hold dengan target harga sekitar Rp3.800, sedangkan Macquarie memberikan rekomendasi neutral di kisaran Rp4.420.
Adapun berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, Pergerakan saham BBNI masih menunjukkan tekanan dalam jangka pendek. Dalam sebulan terakhir, saham BBNI tercatat turun sekitar 240 poin atau setara dengan penurunan 5,28%.
Data pergerakan harian juga menunjukkan dominasi pelemahan, di mana dalam periode tersebut saham BBNI hanya menguat selama tujuh hari dengan akumulasi kenaikan sekitar 6,73%, sementara pada sebelas hari perdagangan lainnya ditutup melemah dengan total penurunan sekitar 12,01%. Sedangkan secara year-to-date turun sekitar 1,83%.
(art/naw)































