Gejolak pasar dalam satu sesi perdagangan ini menggarisbawahi betapa sensitifnya investor terhadap setiap perkembangan di Timur Tengah. Satu judul berita saja terbukti mampu memulihkan kerugian miliaran dolar dalam sekejap. Kendati demikian, volatilitas diprediksi tetap tinggi karena investor masih menimbang konflik geopolitik yang berubah cepat tanpa panduan perdagangan yang jelas.
"Apa yang kita lihat sekarang lebih merupakan reli pemulihan setelah episode penghindaran risiko yang ekstrem, bukan pergeseran tulus kembali ke lingkungan yang sepenuhnya berani mengambil risiko," ujar Dilin Wu, pakar strategi riset di Pepperstone Group.
Pasar minyak mentah mengalami sesi yang sangat volatil pada hari Senin, dengan ayunan harga terlebar sejak krisis pandemi. Sempat melonjak mendekati US$120 per barel pada Senin pagi, harga minyak akhirnya menarik diri setelah negara-negara ekonomi terbesar dunia mempertimbangkan langkah pelepasan cadangan minyak darurat.
Meski demikian, ancaman belum sepenuhnya hilang. Jalur vital Selat Hormuz secara efektif masih tertutup, yang memaksa produsen besar di Teluk Persia, termasuk Arab Saudi, untuk membatasi produksi mereka.
Para menteri keuangan G-7 menyatakan kesiapan mereka untuk mengambil langkah apa pun guna mendukung pasokan energi, termasuk melepas cadangan minyak strategis—meskipun saat ini kelompok tersebut belum sampai pada tahap eksekusi. Di sisi lain, Reuters melaporkan bahwa Trump diperkirakan akan meninjau sejumlah opsi untuk meredam harga minyak, termasuk membatasi ekspor AS dan menangguhkan beberapa pajak federal.
"Kami memperkirakan pasar akan tetap fokus pada jangka pendek, sangat volatil, dan sangat dipengaruhi oleh berita-berita utama seiring perkembangan konflik minggu ini," kata Carol Schleif dari BMO Private Wealth.
(bbn)




























