Selain itu, menurut Ibrahim, defisit anggaran juga menjadi salah satu penekan dari rupiah yang saat ini hampir menembus di angka Rp17.000 per US$. Ibrahim menyebut bahwa potensi penguatan rupiah baru akan terjadi usai tensi global mereda.
“Agak sulit untuk melihat how long it will last, karena ini kan nggak bisa dipisahkan dari berapa lama konflik di Timur Tengah akan terjadi” kata Ibrahim
Intervensi Bank Indonesia
Menurut Ibrahim langkah intervensi Bank Indonesia di pasar valuta asing memang diperlukan untuk menjaga stabilitas rupiah. Namun, ia menilai komunikasi kebijakan dari bank sentral juga perlu diperkuat agar pelaku pasar memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai arah kebijakan.
Menurut Ibrahim, intervensi cepat dapat membantu menjaga stabilitas psikologis pasar, terutama selama nilai tukar rupiah masih berada di kisaran Rp16.000-an per dolar AS.
“Jadi kalau di kepala 16 itu kan secara psikologis kita masih nggak terlalu berubah gitu. Pronya adalah kalau semakin cepat diintervensi kita akan mendapatkan satu angka yang tetap kredibel.” kata Ibrahim.
Meski demikian, intervensi yang terlalu agresif juga berpotensi menguras cadangan devisa jika tekanan terhadap rupiah berlangsung dalam jangka panjang.
Oleh karena itu, menurutnya Bank Indonesia perlu melakukan stress testing untuk menentukan batas pelemahan rupiah yang masih dapat ditoleransi sebelum melakukan intervensi besar.
Ia menilai transparansi mengenai batas toleransi tersebut penting untuk meredakan ketidakpastian di pasar.
“Mungkin perlu ada public statement dari BI bahwa ada stress testing, bahwa 17.500 ini sebenarnya masih oke loh misalnya. Nanti kita intervensi kalau misalnya 17.500 misalnya,” ujarnya.
Selain intervensi langsung di pasar valas, Bank Indonesia juga memiliki berbagai instrumen kebijakan lain seperti pengaturan likuiditas melalui instrumen moneter. Namun menurut Ibrahim, berbagai instrumen tersebut pada dasarnya tetap bermuara pada keputusan utama bank sentral terkait penggunaan cadangan devisa.
“Entah lewat SRBI atau instrumen lain, itu hanya tools. Ujungnya tetap sama, apakah BI membuka cadangan devisanya untuk intervensi atau tidak,” sebut Ibrahim.
(ell/lav)































