Logo Bloomberg Technoz

3 Sebab Posisi RI Rentan Saat Dunia Berebut BBM Efek Perang Iran

Redaksi
09 March 2026 13:31

Tanda 'Maaf Tidak Berfungsi' pada pompa bahan bakar minyak./Bloomberg-David Paul Morris
Tanda 'Maaf Tidak Berfungsi' pada pompa bahan bakar minyak./Bloomberg-David Paul Morris

Bloomberg Technoz, Jakarta - CEO Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menjelaskan bahwa risiko energi Indonesia terbilang cukup besar saat ini di tengah perang Iran yang masih berkecamuk.

Ditambah, negara-negara di Asia sudah mulai mengurangi penjualan berbagai komoditas mulai dari bahan bakar minyak (BBM) hingga gas minyak cair atau liquefied petroleum gas (LPG) dan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) demi mengelola persediaan yang makin menipis.

Sebut saja, China telah memerintahkan kilang minyak terbesarnya untuk menghentikan ekspor solar dan bensin, meminta mereka agar tidak menandatangani kontrak baru dan membatalkan pengiriman yang sudah disepakati.


Di Vietnam, pemerintah setempat telah menganulir kebijakan pembatasan impor BBM untuk menjaga pasokan domestik. Myanmar menerapkan kebijakan ganjil-genap juga dengan tujuan yang sama, sedangkan Taiwan menetapkan price cap harga BBM agar kenaikan tidak terlalu menanjak.

"Ada disrupsi terhadap pasokan minyak mentah dan juga produk BBM [bahan bakar minyak] serta LPG [liquified petroleum gas] risikonya tinggi," beber Fabby saat dihubungi Bloomberg Technoz, dikutip Senin (9/3/2026).