Logo Bloomberg Technoz

Tiga Penyebab

Menurutnya, ada tiga penyebab mengapa energi Indonesia begitu rentan. Pertama, cadangan energi RI disebut Fabby terlalu sedikit. Sebelumnya, Bahlil mengklaim seluruh stok minyak mentah, BBM, dan LPG berada di atas standar minimum nasional, yakni 21 hari.

Sejarah Cadangan Minyak di Indonesia (Bloomberg Technoz)

"Cadangan kita yang disebut oleh Menteri ESDM, cadangan strategis untuk 20 hari, itu terlalu sedikit ya kalau kita mempertimbangkan potensi perang ini bisa lebih lama. Untuk bisa memenuhi kebutuhan Indonesia, kalau minyak itu kan 1,7 juta barel per hari, kalau LPG itu kira-kira 8 juta ton per tahun dibagi 365 itu kira-kira berapa gitu ya. Nah, itu yang pertama," jelasnya.

Kedua, lanjut Fabby, produksi minyak domestik mungkin hanya mampu memenuhi 50%—60% dari total kebutuhan, sedangkan ketergantungan minyak cukup tinggi.

"Sehingga ketergantungan dari impornya tinggi itu juga bikin rentan," ujarnya.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), diketahui lifting minyak bumi tahun 2025 mencapai 605,3 ribu barel per hari (bph). Sementara itu, konsumsi BBM bulanan mencapai sekitar 1,3 juta bph.

Pakar strategi transisi energi ini mengungkap penyebab ketiga ialah kerentanannya itu sendiri. Risiko energi Indonesia itu sendiri berasal dari komposisi bauran energi, yang masih didominasi oleh energi fosil.

"[Sebanyak] 80% energi Indonesia itu berasal dari energi fosil. Nah, salah satu yang perlu diwaspadai dengan energi fosil, harga energi fosil itu sangat dipengaruhi oleh tidak saja kondisi demand supply, tetapi juga kondisi geopolitik."

Kondisi Cadangan Minyak RI (Bloomberg Technoz)

Dia menjelaskan kenaikan harga minyak bisa mendorong harga batu bara ikut meningkat. Artinya, biaya penyediaan energi domestik juga akan meningkat.

"Nah, kalau biaya penyediaan energi meningkat yang jadi pertanyaan itu terjangkau atau tidak harganya? Terjangkau, ya dibuat terjangkau bisa dengan cara subsidi, tetapi cara itu kan kemudian memindahkan beban keuangan ke APBN. Dan itu ada masalah sendiri lagi nanti. Jadi kalau ditanya rentan saya kira cukup rentan," ujarnya.

Untuk diketahui, harga minyak mentah dunia akhirnya meroket melampaui angka US$100/barel, dipicu kebijakan sejumlah produsen utama Timur Tengah yang mulai memangkas produksi, hampir lumpuhnya jalur pelayaran di Selat Hormuz, serta ancaman Amerika Serikat (AS) untuk memperluas cakupan konflik yang kini telah mengguncang pasar energi global.

Harga minyak jenis Brent melonjak hingga 20% ke posisi US$111,04 per barel pada pembukaan perdagangan, sementara West Texas Intermediate (WTI) melambung hingga 22%.

Harga minyak dunia. (Sumber: Bloomberg)

Uni Emirat Arab dan Kuwait telah mulai mengurangi produksi karena fasilitas penyimpanan mereka terisi penuh dengan cepat akibat penutupan Selat Hormuz. Langkah serupa telah dilakukan Irak yang mulai menghentikan sebagian produksinya sejak pekan lalu.

Perang di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda setelah serangan AS dan Israel ke Iran lebih dari sepekan lalu.

Terhentinya pengiriman melalui Selat Hormuz—jalur air sempit yang biasanya menangani seperlima pasokan minyak dunia—serta serangan terhadap infrastruktur energi telah mendorong harga minyak mentah dan gas alam.

"Level psikologis US$100/barel mungkin hanya menjadi target harga jangka pendek menuju level yang lebih tinggi seiring berlarutnya konflik. Produksi minyak terpaksa dipangkas karena tangki penyimpanan penuh akibat kapal tanker yang tidak bisa memuat minyak," ujar Andy Lipow, Presiden Lipow Oil Associates.

Konflik ini juga telah menyeret lebih dari belasan negara dan memicu kekhawatiran akan krisis inflasi global. Di AS harga eceran bensin melonjak ke level tertinggi sejak Agustus 2024, yang menjadi tantangan berat bagi Presiden Donald Trump dan partainya menjelang pemilihan paruh waktu tahun ini.

(ros/wdh)

No more pages