Dia juga menyatakan tailing tersebut tidak serta-merta dibuang dalam fasilitas pembuangan, tetapi perlu dipastikan kualitas dan spesifikasinya sudah sesuai dengan standar perseroan.
Budiawansyah menyebut salah satu standar yang sangat penting dipenuhi yakni kandungan air yang terkandung dalam limbah tersebut. Jika terlalu banyak kandungan airnya, potensi longsoran tailing bakal makin tinggi.
“Dan yang paling utama itu adalah kita tekankan bagaimana kualitas atau spesifikasi daripada tailing itu tidak boleh keluar dari parameter yang ditetapkan. Contoh, kalau dia masih kelebihan kandungan air, itu membahayakan. Jadi dia itu akan menjadi, bisa menjadi mud flow. Nah itu hal yang kita hindari,” ujar Budiawansyah.
Sebelumnya, sejumlah insiden longsor kerap terjadi pada fasilitas penampungan limbah smelter nikel di Indonesia.
Terbaru, longsor terjadi di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) tepatnya di area operasional IMIP 9 milik PT QMB New Energy Materials Co. Ltd pada Rabu (18/2/2026) sekitar pukul 14.00 WITA.
Gegara insiden tersebut, sejumlah alat berat seperti excavator, bull dozer, dump truck terbawa longsor. Lalu, terdapat satu pekerja perusahaan kontraktor lokal Morowali yang meninggal dunia.
Longsor tersebut terjadi di area pembuangan limbah industri atau dumping IMIP 9 milik PT QMB New Energy Materials Co. Ltd.
Penyimpanan tailing pabrik di IMIP pada November 2025 sempat hampir penuh, yang membuat laju produksi sejumlah smelter ditahan.
Misalkan, produksi dari smelter PT QMB New Energy Materials Co. Ltd. dilaporkan lebih rendah setidaknya selama dua pekan, menurut sumber Bloomberg News.
Di sisi lain, penyimpanan tailing pabrik di dalam kawasan hampir penuh, dan dokumen untuk lokasi lain masih diproses.
Selain itu, terjadi longsor di area penyimpanan tailing atau Tailings Storage Facility (TSF) di kawasan IMIP pada Maret 2025. Tiga pekerja kontraktor meninggal dunia akibat insiden tersebut dan satu pekerja selamat.
Para korban tersebut merupakan pekerja di PT Morowali Investasi Konstruksi Indonesia (MIKI), kontraktor pengelola tailing yang bermitra dengan PT QMB New Energy Materials.
Saat itu, pabrik terpaksa menghentikan hampir seluruh produksinya akibat kecelakaan tersebut. Sejumlah penambang di kawasan itu juga terpaksa mengurangi produksi.
(azr/wdh)




























