Di pasar global, harga emas dunia jatuh pagi ini. Pada pukul 08:20 WIB, harga emas dunia di pasar spot tercatat US$ 5.077,6/troy ons. Anjlok 1,58% dibandingkan penutupan perdagangan akhir pekan lalu.
Penguatan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) jadi pemberat bagi langkah harga emas. Pada pukul 08:21 WIB, Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) terangkat 0,7% ke 99,673.
Dollar Index pun menyentuh posisi tertinggi sejak 24 November tahun lalu atau lebih dari tiga bulan terakhir.
Emas adalah aset yang dibanderol dalam dolar AS. Ketika mata uang Negeri Adikuasa terapresiasi, maka emas jadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain.
Penyebab kejayaan dolar AS adalah harga minyak yang melambung tinggi akibat perang di Timur Tengah. Pada pukul 08:23 WIB, harga minyak jenis brent meroket 18,12% ke US$ 109,5/barel. Ini menjadi yang tertinggi sejak Juni 2023 atau lebih dari 2,5 tahun terakhir.
Saat harga minyak makin mahal, maka harga BBM tentu pada saatnya akan mengalami penyesuaian. Artinya, tekanan inflasi adalah risiko yang sangat nyata.
Ini membuat bank sentral di berbagai negara, termasuk Federal Reserve di AS, akan sulit untuk melonggarkan kebijakan moneter. Harapan akan penurunan suku bunga acuan pada tahun ini kian memudar, dan ini menjadi angin segar bagi dolar AS.
Emas juga merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga belum turun.
(aji)




























