Logo Bloomberg Technoz

IHSG dan bursa saham Benua Kuning tertular’ Wall Street yang ‘batuk-batuk’. Dini hari tadi waktu Indonesia, indeks S&P 500, Dow Jones Industrial Average, dan Nasdaq Composite ditutup melemah masing-masing 0,56%, 1,61%, dan 0,26%.

Perkembangan di Timur Tengah membuat investor menghindari aset-aset berisiko seperti saham. Perang yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel versus Iran masih berlangsung, bahkan makin meluas.

“Sekarang yang penting adalah apakah perang bakal berlangsung dalam hitungan hari, minggu, atau lebih lama lagi? Keengganan Iran untuk menyerah membuat tensi masih tinggi,” kata Marco Oviedo, Senior Strategist di XP Investimentos, seperti dinukil dari Bloomberg News.

Iran melancarkan serangan ke berbagai pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Serangan dilaporkan terjadi di Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, dan Kuwait.

Ketegangan di Timur Tengah membuat harga minyak melonjak. Kemarin, harga minyak jenis brent ditutup di US$ 85,41/barel. Melonjak 4,93% dari hari sebelumnya dan menjadi yang tertinggi sejak 1 Juli 2024 atau sekira 1,5 tahun terakhir.

Dalam sepekan terakhir, harga si emas hitam meroket hampir 20% secara point-to-point.

“Jika tekanan di pasar minyak terus terjadi dan berakibat pada perlambatan pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang meninggi, maka kita mungkin akan kembali melihat apa yang terjadi pada 2021-2023. Saat itu, saham dan obligasi mengalami aksi jual massal (sell off) secara berbarengan,” tegas catatan Morgan Stanley.

(aji)

No more pages