Logo Bloomberg Technoz

“PT GNI berkomitmen untuk tetap menjalankan operasional perusahaan secara berkelanjutan, mengutamakan keselamatan kerja, serta menjaga stabilitas produksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” tegas manajemen GNI.

Adapun, informasi penutupan atau shutdown sejumlah lini produksi PT GNI pada awalnya diungkapkan oleh Sekretaris Umum Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Meidy Katrin Lengkey.

Meidy sebelumnya membeberkan hingga kini terdapat tiga pabrik pemurnian nikel yang terdampak kurangnya bahan baku di tengah pemangkasan RKAB 2026 hingga ketatnya persaingan smelter di Tanah Air.

Awalnya, dia menyampaikan RKAB nikel periode 2026 sebanyak 260—270 juta ton otomatis akan mengurangi konsumsi bijih nikel atau ore di Tanah Air.

Hal itu disampaikan dalam kegiatan forum asosiasi pertambangan pada  Senin (2/3/2026) yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dengan tema Roundtable Discussion: Produksi Batubara dan Nikel dalam RKAB 2026 serta Prospeknya terhadap Perekonomian Nasional, Ketahanan Energi, Iklim Investasi & Penciptaan Lapangan Kerja.

Secara bersamaan, terdapat isu pemutusan hubungan kerja (PHK) yang juga dibahas sebagai efek domino dari kebijakan pemangkasan RKAB oleh pemerintah yang ingin mengendalikan harga nikel lantaran kelebihan pasokan atau oversupply nikel.

Dalam forum tersebut, Meidy menuturkan APNI hingga kini belum menghitung secara terperinci ihwal dampak PHK tersebut, khususnya bagi pekerja smelter nikel.

Akan tetapi, dia mengungkapkan sudah ada tiga smelter yang terdampak. Namun, di dalam forum Meidy tidak menyebutkan nama ketiga perusahaan smelter yang terganggu. 

Seusai acara, Bloomberg Technoz mengonfirmasi ulang kepada Meidy ihwal pernyataan yang disampaikan di dalam forum tersebut. 

Dia lantas menyebutkan tiga perusahaan smelter tersebut yakni PT Huadi Nickel Alloy Indonesia (HNAI) di Bantaeng, Sulawesi Selatan; PT Wanxiang Nickel Indonesia di Morowali, Sulawesi tengah; dan PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) di Morowali.

“[Sebanyak] 3 smelter sudah kami konfirmasi. Huadi shutdown total, Wanxiang tinggal 2 line, Gunbuster shutdown 5 line dari 20 line,” kata Meidy saat ditemui usai diskusi RKAB di kantor DPN Apindo, Senin (2/3/2026).

Dalam perkembangannya, Meidy lantas mengoreksi pernyataannya sendiri pada Selasa (3/3/2026). 

Dia menyebut smelter PT GNI akan melakukan perawatan atau servis terhadap 5 jalur produksi pada tahun ini. Kemudian, PT Huadi Nickel menghentikan produksi sejak akhir 2025. Lalu, PT Wanxiang telah melakukan penghentian beberapa jalur produksi sejak akhir 2025.

“Pernyataan tersebut adalah informasi operasional perusahaan dan tidak dikaitkan sebagai akibat langsung dari kebijakan RKAB,” kata Meidy dalam keterangan terbarunya.

Adapun, industri smelter nikel, khususnya yang berbasis rotary kiln electric furnace (RKEF) atau pirometalurgi, di Indonesia selama ini sudah cukup tertekan karena dihadapkan pada isu kelebihan produksi sejak 2022. Oversupply tersebut diestimasikan terus berlanjut hingga 2029, bahkan 2030.

Beberapa pemain besar di sektor ini bahkan telah melakukan penyetopan lini produksi sementara sejak awal 2025 akibat margin yang makin menipis, bahkan mendekati nol, saat permintaan baja nirkarat China turun dan biaya produksi makin meningkat.

Sekadar catatan, sejak awal 2025, Gunbuster memang dikabarkan telah menyetop mayoritas dari lebih dari 20 lini produksinya. Berbagai narasumber Bloomberg News sebelumnya menyebut Gunbuster telah menunda pembayaran pada pemasok sehingga tidak dapat memperoleh bijih nikel untuk diolah smelter-nya.

Selain akibat tekanan harga nikel yang terus turun, bisnis Gunbuster dikabarkan terimbas oleh kejatuhan induk usahanya di China, Jiangsu Delong, akibat gagal bayar utang.

Sementara itu, Huadi pada Juli 2025 dilaporkan telah menyetop seluruh kegiatan operasional smelter nikelnya sejak 15 Juli 2025. Di sisi lain, Huadi juga dilaporkan telah mem-PHK massal pekerja lebih dari 1.200 orang.

Tak hanya itu, PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS) serta PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) juga dilaporkan telah melakukan penyetopan sementara atau shutdown sebagian lini produksinya pada tahun lalu.

Berikut wawancara lengkap APNI dan Bloomberg Technoz, terkait smelter terdampak RKAB 2026


(azr/wdh)

No more pages