Lebih lanjut, Bahlil menyatakan kapasitas penyimpanan minyak Indonesia baru mencapai 25—26 hari. Ke depan, Kementerian ESDM berencana meningkatkan kapasitas tangki penyimpanan atau storage tank menjadi di atas 90 hari.
Bahlil menyatakan feasibility study (FS) proyek pembangunan tangki penyimpanan komoditas minyak tersebut sedang dikerjakan. Dia menyebut salah satu proyek tersebut bakal dibangun di Sumatra.
“Makanya sekarang pemerintah lagi sedang berusaha untuk membangun storage yang kapasitasnya bisa sampai dengan 3 bulan, karena itu standar internasional,” klaim dia.
“Kami akan targetkan, FS lagi berjalan, dan ditargetkan di tahun ini pembangunannya sudah mulai dilakukan. Jangan tanya saya bulan apa ya, lokasinya di daerah Sumatra. Sumatranya pun jangan tanya saya di kabupaten apa,” papar Bahlil.
Dalam kesempatan itu, Bahlil juga memastikan harga BBM bersubsidi yakni Pertalite dan Solar tidak mengalami kenaikan, meskipun harga minyak dunia melonjak gegara konflik di Timur Tengah.
Bahlil menyatakan harga minyak dunia sudah naik ke level US$78—US$80 per barel, melebihi asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 sebesar US$70 per barel.
Akan tetapi, Bahlil menyatakan berdasarkan hasil rapat terbaru telah diputuskan harga BBM bersubsidi tak mengalami penyesuaian atau tetap.
"Sampai dengan kami rapat tadi, belum ada. Jadi aman-aman saja, hari raya yang baik, puasa yang baik, insya Allah belum ada kenaikan harga BBM," ujar Bahlil.
Untuk BBM nonsubsidi, Bahlil menyatakan harga BBM tersebut ditetapkan menyesuaikan harga pasar. Sehingga, jika harga minyak mentah dunia naik, umumnya harga BBM nonsubsidi turut mengalami kenaikan.
“Tetapi kalau untuk nonsubsidi, artinya harga pasar, dia akan fluktuasi berdasarkan dinamika harga pasar yang ada, yang sudah terjadi sebelumnya. Kan itu kan sudah terjadi, bukan baru sekarang kan,” tegasnya.
“Akan tetapi, kalau yang subsidi, selama tidak ada kebijakan baru dari pemerintah, maka harganya tetap sama. Termasuk dengan subsidi solar,” ujar Bahlil.
Sekadar catatan, harga Pertalite terakhir kali naik pada 3 September 2022. Saat itu, Pertalite naik menjadi Rp10.000/liter dari sebelumnya hanya Rp7.650/liter.
Kala itu, harga minyak dunia menembus di atas US$110/barel akibat seteru Rusia-Ukraina yang memengaruhi sektor energi global.
Adapun, harga minyak mentah dunia melanjutkan tren penguatan seiring pecahnya serangan baru di Timur Tengah.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak di atas US$75 per barel setelah reli 11% selama dua hari—kenaikan terbesar dalam empat tahun terakhir. Sementara itu, Brent ditutup mendekati level $81.
Presiden Donald Trump pada hari Selasa menyatakan bahwa US International Development Finance Corporation (DFC) akan menawarkan asuransi bagi kapal-kapal guna menjamin aliran energi dan perdagangan, serta menyediakan pengawalan angkatan laut "jika diperlukan."
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia ke Samudra Hindia. Sebagai jalur esensial bagi perdagangan energi global, selat ini mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Sejak perang pecah Sabtu lalu, kapal-kapal tanker menghindari titik nadi ini karena risiko yang terus meningkat, termasuk ancaman Teheran terhadap kapal-kapal yang melintas.
(azr/wdh)





























