Skenario 1: Penutupan 1 Bulan
Jika penutupan hanya terjadi selama satu bulan, dampaknya dinilai relatif terbatas. Harga minyak rata-rata (ICP) 2026 diproyeksikan berada di US$68 per barel, lebih rendah dari asumsi APBN sebesar US$70 per barel.
Dalam kondisi ini, beban subsidi energi lebih ringan dan defisit anggaran berpotensi tetap di bawah target 2,68% PDB. Di samping itu, nilai tukar rupiah diperkirakan stabil di kisaran Rp16.400-Rp16.870/US$.
Inflasi terkendali di sekitar 2,51% dan pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5,31% pada 2026. Bank Indonesia bahkan disebut masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga acuan ke 4,25%.
"Pada skenario ini, penyesuaian harga BBM tidak diperlukan," jelasnya.
Skenario 2: Penutupan 3 Bulan
Namun jika gangguan berlangsung tiga bulan, ungkap Myrdal tekanan akan mulai terasa. Mulai dari harga minyak rata-rata (Brent dan ICP) diperkirakan naik 10% menjadi US$77 per barel. Defisit APBN juga berpotensi melebar mendekati 2,90% PDB.
Untuk menjaga batas defisit maksimal 3%, pemerintah kemungkinan perlu menaikkan harga BBM subsidi sekitar 10%. Inflasi meningkat menjadi 4%, rupiah melemah ke Rp17.300/US$.
"BI [akan] merespons dengan kenaikan suku bunga 25 bps menjadi 5,00%. Pertumbuhan ekonomi melambat ke 5,0%, di bawah target 5,4%."
Skenario 3: Penutupan 6 Bulan
Skenario yang lebih berat terjadi jika konflik berlangsung enam bulan. Harga ICP diproyeksikan melonjak 20% menjadi US$84 per barel.
Pemerintah diperkirakan harus menaikkan harga BBM subsidi hingga 20% guna menjaga defisit tetap terkendali. Inflasi naik ke 5% akibat dampak lanjutan terhadap tarif listrik, LPG 3 kg, dan harga pangan.
Rupiah juga diprediksi bakal melemah ke Rp17.800/US$. Lebih lanjut Bank Indonesia bakal berpotensi menaikkan suku bunga 100 basis poin menjadi 5,75%. Pertumbuhan ekonomi turun ke 4,7%, mendekati tekanan stagflasi.
Skenario 4: Penutupan hingga 9 Bulan
Dalam skenario terburuk, yakni blokade berlangsung hingga sembilan bulan atau sepanjang sisa 2026, harga ICP dapat melonjak 30% menjadi US$91 per barel. Meski harga BBM subsidi dinaikkan hingga 30% untuk menjaga defisit sekitar 2,90% PDB, tekanan makroekonomi tetap besar.
Rupiah bisa melemah hingga Rp18.300/US$, inflasi menembus 6%, dan suku bunga acuan berpotensi naik 150 basis poin menjadi 6,25%. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan turun ke 4,5%.
Melihat potensi risiko tersebut, diperlukan koordinasi erat antara pemerintah, Bank Indonesia, OJK, dan sektor perbankan.
Rekomendasi Untuk Pemerintah
Sejalan dengan skenario-skenario yang dipaparkan olehnya, Myrdal lantas merekomendasikan kepada pemerintah untuk perlu menjaga disiplin fiskal di bawah batas defisit 3% PDB dan memastikan subsidi lebih tepat sasaran, serta sinergi fiskal-moneter melalui KSSK.
Selain itu, otoritas moneter dan keuangan diharapkan menjaga stabilitas nilai tukar serta sistem keuangan mencakup stabilisasi nilai tukar melalui intervensi pasar valas, kebijakan makroprudensial selektif, serta pengawasan risiko kredit.
Sementara itu, perbankan diminta memperkuat manajemen likuiditas dan mitigasi risiko kredit lewat diversifikasi pendapatan berbasis fee, pemanfaatan skema pembiayaan berkelanjutan seperti FLPP dan EBA-SP, serta restrukturisasi terukur bagi sektor terdampak.
"Dengan koordinasi yang solid dan respons kebijakan yang cepat, Indonesia dapat meminimalkan dampak dan menjaga kepercayaan pasar," pungkasnya.
Sebagaimana diketahui, presiden AS Donald Trump pada Sabtu lalu mengumumkan kematian Khamenei, pemimpin tertinggi Iran kedua sejak Republik Islam berdiri pada 1979, dan kemudian dikonfirmasi oleh media pemerintah Iran. Trump menyebut Khamenei sebagai "salah satu orang paling jahat dalam sejarah" dan kembali menyerukan agar rakyat Iran bangkit dan menggulingkan rezim.
"Kita tidak dapat membiarkan sebuah negara yang membentuk pasukan teroris memiliki senjata seperti itu yang memungkinkan mereka untuk memaksa dunia menuruti keinginan jahat mereka," katanya tentang ambisi nuklir Iran.
"Operasi tempur terus berlanjut saat ini dengan kekuatan penuh dan akan terus berlanjut hingga semua tujuan kita tercapai."
(ell)


























