“Membantu, tetapi blm bisa menutupi kekurangan apabila Selat Hormuz tutup,” tuturnya.
Pada Senin (2/3/2026), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melonjak hingga 8,07% ke level sekitar US$72,43/barel. Sementara itu, minyak Brent untuk pengiriman Mei melonjak 12% menjadi US$81,37 per barel pada pukul 7.01 pagi di Singapura.
Diberitakan sebelumnya, OPEC+ resmi sepakat untuk melanjutkan peningkatan produksi minyak dengan laju yang sedikit lebih cepat di tengah konflik yang dipicu oleh serangan AS-Israel terhadap Iran yang mengancam kenaikan harga minyak mentah.
Anggota-anggota kunci OPEC+ yang dipimpin oleh Arab Saudi dan Rusia — yang telah menghentikan serangkaian peningkatan produksi selama kuartal I-2026 — akan menambah 206.000 bph per April, menurut pernyataan setelah konferensi video bulanan mereka pada Minggu (1/3/2026).
Peningkatan ini hanya 1,5 kali lebih besar dari peningkatan 137.000 bph yang dilakukan oleh kelompok tersebut pada Desember 2025.
Konflik di Timur Tengah mengancam akan mengganggu aliran minyak global, tetapi beberapa produsen OPEC+ memiliki kapasitas terbatas untuk meningkatkan produksi, sementara seorang delegasi mengatakan masih terlalu dini untuk menilai dampak pasar.
Anggota-anggota kunci dari Teluk juga dapat menghadapi risiko pembatasan ekspor jika terjadi gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz yang penting.
“Langkah ini kemungkinan tidak akan menenangkan pasar — ini adalah sinyal, bukan solusi,” kata Jorge Leon, kepala analisis geopolitik di konsultan Rystad Energy AS yang sebelumnya bekerja di sekretariat OPEC.
“Anda dapat mengumumkan peningkatan produksi, tetapi jika kapal tanker menghadapi kendala di Hormuz, pasar fisik tetap ketat.”
(mfd/wdh)






























