Logo Bloomberg Technoz

Organisasi PBB tersebut menyoroti kesenjangan digital terhadap negara maju dan berkembang. Penduduk di negara maju memiliki 67% keterampilan digital, sedangkan negara berkembang hanya 28%.

Selanjutnya, UNESCO mengatakan hanya 48% negara yang mengembangkan statistik untuk memantau konsumsi konten digital cultural, sehingga membatasi respons terhadap kebijakan yang efektif. “Konsentrasi pasar di antara sejumlah kecil platform streaming dan sistem kurasi konten yang tidak transparan meminggirkan kreator yang kurang dikenal,” ungkap mereka.

CEO Robinhood: AI Bisa Picu Singularitas Pekerjaan

Dalam kesempatan berbeda, Chief Executive Officer (CEO) Robinhood Vlad Tenev pernah menyampaikan dampak AI secara luas. Pada satu sisi teknologi  ini dapat menyebabkan pemutusan hubungan kerja (PHK), namun sisi lain memicu lonjakan lapangan kerja baru.

AI bisa mendorong apa yang Tenev sebut sebagai “ledakan Kambrium” — atau radiasi Kambrium; masa saat kehidupan di Bumi mulai mengalami diversifikasi makhluk hidup — inovasi baru dan penciptaan lapangan kerja.

“Kita berada pada kurva penciptaan lapangan kerja yang sangat cepat, yang saya sebut sebagai ‘singularitas lapangan kerja,’ sebuah ledakan Kambrium bukan hanya lapangan kerja baru tetapi juga kelompok lapangan kerja baru di setiap bidang yang dapat dibayangkan,” jelas Tenev.

“Jika internet memberi orang jangkauan global, AI memberi mereka staf kelas dunia,” imbuh Tenev, dikutip dari TED.

Baca Juga: 10 Aplikasi AI Gratis yang Bisa Anda Coba

Dia juga menilai pergeseran ini mengatur ulang masa depan pekerjaan, memberikan kemampuan kepada individu yang dulunya hanya dimiliki oleh perusahaan besar.

Seiring dengan makin banyaknya tool AI yang mengambil alih tugas di bidang teknik, pemasaran, penelitian, operasional, dan dukungan pelanggan, Tenev beranggapan, manusia bisa beroperasi dengan dukungan institusional yang jauh lebih sedikit, sehingga menurunkan hambatan untuk mendirikan perusahaan dan jenis pekerjaan baru.

“Akan ada gelombang aktivitas bisnis baru dengan perusahaan mikro, lembaga perorangan, dan startup bernilai miliaran dolar—yang saya rasa kita tidak terlalu jauh dari itu,” ujar dia.

Sementara itu, terdapat penelitian yang mendukung sejumlah pernyataan Tenev, termasuk studi pada Oktober 2025 dari MIT Sloan School of Management. Disebutkan, perusahaan yang mengadopsi AI cenderung tumbuh lebih cepat dan menambah lapangan kerja.

Selanjutnya, analisis pada Januari 2025 dari Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) memperkirakan sekitar 170 juta pekerjaan baru bakal tercipta, sejalan dengan meluasnya penggunaan AI.

Tenev menuturkan, hal yang membuat transisi saat ini terasa berbeda yaitu kecepatan AI dalam mengganggu pasar kerja. Sistem AI kini dapat melampaui beberapa tugas yang didefinisikan secara sempit dan beroperasi pada berbagai bidang, dengan cara yang tak bisa dilakukan oleh teknologi sebelumnya, seperti komputer pribadi (PC) dan smartphone.

Tenev menyebut singularitas pekerjaan ini adalah bagian dari pola sejarah panjang di mana seluruh kelas pekerjaan — dari berburu dan bertani hingga pandai besi serta buruh pabrik — telah lenyap seiring dengan meningkatnya produktivitas lewat otomatisasi. “Gangguan lapangan kerja adalah kualitas penting dari evolusi manusia,” kata dia.

(wep)

No more pages