Logo Bloomberg Technoz

Data Bursa Efek Indonesia memperhitungkan nilai perdagangan mencapai Rp28,14 triliun dari sejumlah 56,52 miliar saham yang ditransaksikan. Dengan frekuensi menyentuh 3,14 juta kali diperjualbelikan.

Tercatat hanya ada penguatan 146 saham, dan sebanyak–banyaknya 568 saham terjadi pelemahan. Sisanya 105 saham stagnan.

Saham–saham konsumen non primer big caps menjadi pemberat IHSG pada hari ini, yaitu saham BUVA dan saham VKTR. Adapun saham transportasi, saham konsumen non primer, dan saham infrastruktur melemah paling dalam, dengan masing–masing minus 4,53%, 2,58% dan 2,41%.

Saham–saham big caps jadi pemberat IHSG hingga menempati jajaran top losers.

  1. Bukit Uluwatu Villa (BUVA) mengurangi 5,13 poin
  2. Vktr Teknologi Mobilitas (VKTR) mengurangi 5,09 poin
  3. Impack Pratama Industri (IMPC) mengurangi 5,03 poin
  4. Merdeka Copper Gold (MDKA) mengurangi 4,74 poin
  5. Barito Pacific (BRPT) mengurangi 4,02 poin
  6. United Tractors (UNTR) mengurangi 3,25 poin
  7. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) mengurangi 3,15 poin
  8. Bumi Resources (BUMI) mengurangi 3,12 poin
  9. Bumi Resources Minerals (BRMS) mengurangi 2,99 poin
  10. Petrosea (PTRO) mengurangi 2,96 poin

Sejumlah saham unggulan LQ45 lainnya juga menjadi pendorong pelemahan IHSG ialah, saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) yang turun 5,56%, saham PT XLSmart Tbk (EXCL) ambles 5,36%, dan juga saham PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) melemah 4,62%.

Senada, saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) drop 4,21%, saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) melemah 3,59%. Saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) terpeleset 3,41% hingga menjadi pemberat IHSG.

Melansir Panin Sekuritas, IHSG ditutup di zona merah, dengan posisi stochastic masih mengarah ke bawah, artinya masih ada kemungkinan melemah.

Critical level berada pada Neckline Double Bottom 8.214  sampai dengan titik Low hari ini di 8.140,” sebut Panin Sekuritas.

Jika IHSG ditutup di bawah area ini maka IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan menuju support psikologis 8.000. Di sisi lain, resistance terdekat berada pada MA–50 di 8.441.

Penyebabnya, Sentimen negatif berasal dari pemberitaan di pasar menyoal Departemen Perdagangan AS yang akan memberlakukan tarif atas sel dan panel surya yang diimpor dari perusahaan–perusahaan di India, Indonesia dan Laos, dengan alasan industri panel surya di tiga negara tersebut dilindungi subsidi. 

AS menetapkan tarif sebesar 125,87% untuk produk ini dari India, 104,38% untuk impor dari Indonesia dan 80,67% untuk impor dari Laos. 

Pidato Trump Inilah Tahun Keemasan Bagi Amerika (Diolah)

“Selain tarif umum, AS juga menghitung tarif individu bagi perusahaan. Di Indonesia, PT Blue Sky Solar dikenakan tarif 143,3% dan PT REC Solar Energy dikenakan tarif 85,99%,” jelas Phintraco. 

Sementara itu Delegasi Perdagangan AS (United States Trade Representative/USTR) berencana membuka penyelidikan Pasal 301 terhadap praktik perdagangan Indonesia untuk memeriksa kapasitas industri dan subsidi perikanan. Hasil temuan penyelidikan ini nantinya akan dibandingkan dengan langkah–langkah yang diambil Indonesia dalam memenuhi komitmennya terhadap kecemasan AS. 

Setelah itu USTR juga akan membuat keputusan mengenai jenis tarif apa yang harus diterapkan, yang berpotensi membuat kegelisahan di pasar.

“Secara teknikal, penurunan IHSG tertahan MA–20 di kisaran level 8.204, namun pembentukan histogram positif MACD kembali mengecil dan stochastic RSI membentuk death cross di overbought area.”

Sehingga IHSG masih berpotensi lanjutkan pelemahan menuju level 8.150 pada perdagangan Jumat (27/2/2026).

(fad/ain)

No more pages