Logo Bloomberg Technoz

“Produk [chip H200] belum menghasilkan pendapatan apa pun, dan kami tidak tahu apakah impor akan diizinkan masuk ke China,” tutur Kress, dilaporkan TechCrunch. Dipertebal dengan pernyataan David Peters dari House Foreign Affairs Committee, dengan menerangkan bahwa Nvidia belum menjual chip tersebut ke China meski izin Trump telah diperoleh.

Jensen Huang, CEO Nvidia di Konferensi VivaTech 2025. (Nathan Laine/Bloomberg)

Kegelisan di Wall Street tak lantas sirna. Sebagian analis menyampaikan bahwa tetap ada ketakutan lonjakan belanja infrastruktur komputasi tak berujung dengan cerita manis. Pergerakan saham Nvidia ke depan akan tetap dibayang-bayangi keraguan atas daya tahan investasi perusahaan.

“Terlebih sat perusahaan memiliki angka yang luar biasa, kita tahu pasar sangat tidak stabil,” ucapKen Mahoney, presiden Mahoney Asset Management seperti dilaporkan Bloomberg News.

Pergerakan saham Nvidia. Bulan Oktober lalu sempat tembus rekor tertinggi.

Saham NVDA dalam perdagangan terakhir sedikit melemah namun tetap menatat kenaikan 5% sejak awal kuartal keempat 2025. Pada bagian terpisah investor justru menjauhi  sektor-sektor yang dianggap berpotensi terancam oleh gangguan AI. Data yang Bloomberg amati, Intuit Inc., Gartner Inc., dan Workday Inc. turun lebih dari 40% sejak awal tahun.

Ke depan tetap saja China masih disorot. “Apa yang Nvidia sampaikan atas panduan penting, apa yang mereka katakan tentang penjualan luar negeri mereka dan apa yang dapat mereka jual akan sangat penting,” kata Luke Rahbari, chief executive officer Equity Armor Investments.

Nvidia Paling Bernilai, Harta Jensen Huang Meroket Nyaris Rp2.800 Triliun (Bloomberg Technoz/Asfahan)

(wep)

No more pages