Bursa Asia Tertekan Sentimen AI dan Ketidakpastian Tarif Trump
News
24 February 2026 06:20

Richard Henderson - Bloomberg News
Bloomberg, Mayoritas bursa saham Asia diprediksi melemah pada perdagangan Selasa (24/2) pagi, menyusul kecemasan baru di Wall Street terkait dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap laba perusahaan. Di saat saham teknologi berguguran, aset aman (safe haven) seperti obligasi pemerintah AS (Treasuries) dan emas justru reli, sementara Bitcoin merosot.
Kontrak berjangka indeks saham Jepang, Korea Selatan, dan Hong Kong terpantau turun. Hal serupa terjadi pada bursa China daratan yang baru kembali dibuka setelah libur panjang Tahun Baru Imlek. Sebaliknya, kontrak berjangka Australia sedikit menguat, mengisyaratkan bahwa minimnya komposisi saham teknologi di bursa tersebut menjadi pelindung dari tekanan jual.
Indeks S&P 500 merosot 1% pada perdagangan Senin kemarin. Saham sektor teknologi, pengiriman, dan pembayaran terpukul setelah Citrini Research memaparkan potensi risiko AI terhadap berbagai industri. International Business Machines Corp. (IBM) anjlok 13%, mencatatkan hari terburuknya sejak Oktober 2000, setelah Anthropic mengumumkan bahwa Claude Code miliknya mampu memodernisasi COBOL—bahasa pemrograman yang selama ini menjadi tulang punggung sistem komputer IBM.
Meningkatnya kekhawatiran atas disrupsi AI memicu para trader melepas saham perusahaan mana pun yang dianggap berisiko tergeser oleh teknologi ini. Kekhawatiran tersebut membengkak meski laporan keuangan perusahaan berkapitalisasi besar cukup solid, karena pasar mulai meragukan apakah investasi besar di bidang AI akan segera membuahkan hasil.





























