Belum jelas bagaimana tarif global 15% yang diusulkan Presiden AS Donald Trump, yang diumumkan Sabtu setelah pengadilan memblokir tarif sebelumnya, akan memengaruhi pembelian India ke depan.
Meski demikian, harga yang lebih rendah berarti pendapatan yang lebih kecil, sehingga mengurangi jumlah pajak yang disetor perusahaan minyak negara tersebut ke kas Kremlin.
Minyak Urals di pelabuhan Primorsk, Laut Baltik, diperdagangkan pada US$42,09 pada Jumat, sementara jenis yang sama di Novorossiysk, Laut Hitam, merosot menjadi US$40,44, menurut data Argus.
Angka ini jauh lebih rendah dari asumsi pemerintah saat menyusun anggaran tahun ini, yang memperkirakan harga rata-rata mencapai US$59 per barel pada 2026.
Pada saat Urals tiba di India, diskonnya terhadap Brent menyempit menjadi sekitar US$12 per barel, menurut Argus.
Harga Itu tetap merupakan selisih terlebar sejak April 2023, namun belum jelas apakah delivery spread — selisih besar antara harga ekspor dan harga setelah pengiriman — pada akhirnya menjadi keuntungan pihak Rusia.
Tahun lalu, AS menggandakan tarif menjadi 50% terhadap India atas pembelian Urals dan kemudian memasukkan dua produsen minyak terbesar Rusia, Rosneft PJSC dan Lukoil PJSC, ke dalam daftar hitam.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah menghapus tambahan tarif 25% yang dikenakan pada barang-barang India terkait pembelian minyak Rusia, sebagai langkah awal untuk mengukuhkan kesepakatan dagang yang diumumkan kedua negara.
Pengadilan AS pada Jumat memutuskan bahwa penggunaan International Emergency Economic Powers Act oleh Donald Trump untuk mengenakan tarif adalah ilegal.
Inggris dan Uni Eropa juga memberlakukan batas harga yang lebih rendah terhadap minyak Rusia, kebijakan yang mulai berlaku pada 1 Februari.
Berdasarkan aturan tersebut, perusahaan-perusahaan di Eropa hanya dapat menyediakan layanan seperti pengapalan dan asuransi untuk minyak Rusia jika harganya di bawah US$44,10 per barel.
(bbn)





























