Diketahui, Purbaya telah menyuntikkan likuiditas ke sejumlah perbankan sebesar Rp200 triliun pada September 2025 yakni ke Mandiri, BNI, BRI, BTN dan BSI.
Beberapa bulan setelahnya dia menambahkan Rp76 triliun ke Mandiri, BNI, BRI dan Bank Jakarta. Namun, dana tersebut itu ditarik kembali olehnya untuk membiayai belanja pemerintah di akhir tahun.
Sejak diterapkan pada September 2025 hingga Februari 2026, kebijakan penempatan dana Rp200 triliun yang dikoordinasikan dengan strategi moneter Bank Indonesia (BI) secara konsisten mendukung likuiditas. Hal ini tercermin dari pertumbuhan uang primer (M0) yang pada pekan pertama Februari 2026 masih tumbuh 11,7% secara tahunan atau year on year.
Selain itu, kredit perbankan tumbuh 10% pada Januari 2026 dengan suku bunga yang dinilai kompetitif bagi masyarakat.
Tingkatkan Pembiayaan Sektor Riil
Purbaya menambahkan, dengan kepastian likuiditas tersebut, bank didorong meningkatkan pembiayaan ke sektor riil guna mendukung pertumbuhan ekonomi. Dia juga menegaskan perbankan tidak perlu mencemaskan potensi penarikan dana secara tiba-tiba.
“Dengan pernyataan ini saya tegaskan hal itu tidak akan terjadi. Kami akan evaluasi kembali pada September nanti, enam bulan setelah diperpanjang. Harapannya ekonomi semakin bergerak lebih tinggi dan berbagai program prioritas mulai terlihat hasilnya,” tegasnya
Dia menuturkan pada pekan lalu Kemenkeu dan Bank Indonesia telah menggelar pertemuan untuk melakukan konsolidasi kebijakan, dengan hasil kesepakatan bahwa penempatan dana tersebut diperpanjang hingga September 2026.
“Kami akan evaluasi kembali September nanti. Harapannya ekonomi sudah bergerak lebih tinggi, berbagai program prioritas pemerintah semakin terlihat hasilnya, Danantara semakin berperan, dan dana nonresiden semakin banyak masuk ke Indonesia seiring membaiknya kinerja ekonomi serta meningkatnya kepercayaan terhadap Indonesia,” jelas Purbaya.
(lav)




























