“Relasi yang terjaga baik memberi kita posisi tawar yang lebih kuat. Ini bukan soal mendekat ke satu kekuatan besar, melainkan memastikan kepentingan ekonomi nasional terlindungi. Dalam dunia yang kompetitif, kecepatan dan ketepatan membaca momentum adalah kunci,” jelasnya.
Posisi Indonesia juga dinilai menguat dalam forum BoP, di mana Prabowo menjadi satu-satunya pemimpin yang menggelar pertemuan bilateral dengan Trump. Bahkan dalam pidatonya, Trump menyebut mengagumi Prabowo dan berkelakar tidak ingin melawannya. Dalam diplomasi, simbol dan gestur memiliki makna tersendiri.
“Gestur semacam ini memang terdengar ringan, tetapi dalam diplomasi, simbol dan bahasa tubuh punya arti. Ada sinyal kedekatan personal yang bisa membuka ruang negosiasi lebih luas,” ungkap Agung.
Ia menekankan capaian tersebut bukan sekadar pencitraan. “Bukan sekadar pencitraan politik, melainkan kalkulasi untung-rugi yang jelas. Hasil akhirnya memberi ruang bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor dan memperluas lapangan kerja,” ujarnya.
Dari perspektif geopolitik, manuver ini menunjukkan Indonesia tidak lagi sekadar menjadi penonton dalam dinamika global. Dengan menjaga keseimbangan relasi dan memanfaatkan momentum di Washington, Indonesia mempertegas diri sebagai kekuatan menengah yang aktif, adaptif, dan berani mengambil langkah ketika negara lain masih ragu.
Tantangan berikutnya terletak pada implementasi. Fasilitas tarif dan akses pasar harus benar-benar dimanfaatkan pelaku usaha, termasuk UMKM, agar manfaat diplomasi terasa hingga ke dalam negeri. Jika momentum ini dikelola secara konsisten dan transparan, pertemuan Prabowo–Trump bukan hanya menjadi catatan diplomatik, melainkan bagian dari reposisi Indonesia di jantung kekuatan dunia.
“Dengan pengawasan dan komunikasi yang baik, hasil kunjungan ini tidak hanya menjadi catatan diplomatik, tetapi benar-benar terasa dalam peningkatan kesejahteraan rakyat,” tutup Agung.
(red)





























