Diketahui, pemilik akun Instagram @sasetyaningtyas mengunggah video pernyataannya itu hingga viral. Dalam video itu, ia memperlihatkan tengah membuka sebuah paket yang sudah dinantikannya. Isinya selembar surat dari Home Office Inggris.
Surat itu menyatakan anak kedua sang pemilik akun, resmi menjadi warga negara Inggris. Perempuan itu juga memperlihatkan paspor Inggris yang datang bersamaan dengan surat tersebut.
"Ini paket bukan sembarang paket, isinya adalah sebuah dokumen yang penting banget yang merubah nasib dan masa depan anak-anakku, kita buka ya. Ini adalah surat dari Home Office Inggris yang menyatakan kalau anak aku yang kedua sudah diterima jadi WN Inggris," ujar Tyas sapaan akrabnya.
Dia lantas menyebut anak-anaknya kelak akan diupayakan memiliki kewarganegaraan asing. "I know the world seems unfair tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan, kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu," ujarnya.
Dalam perkembangan terbaru, Tyas menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas pernyataan kontroversialnya di media sosial.
"Saya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat yang merasa tersakiti, tersinggung, maupun tidak nyaman atas pernyataan tersebut," tulisnya.
Melalui pernyataan resminya, Tyas menjelaskan kalimat itu lahir dari rasa kecewa, lelah, dan frustrasi pribadi terkait berbagai kondisi yang dialami sebagai warga negara.
Melalui pernyataan resminya, yang pemilik akun itu menjelaskan kalimat itu lahir dari rasa kecewa, lelah, dan frustrasi pribadi terkait berbagai kondisi yang dialami sebagai warga negara.
Namun, dia menyadari cara penyampaian itu tidak tepat dan berpotensi melukai perasaan banyak orang, khususnya berkaitan dengan identitas kebangsaan.
Dia pun mengakui kesalahannya dalam pemilihan kata dan menyampaikannya di ruangan publik.
"Apa pun latar belakang emosi yang melatarinya, dampak dari pernyataan tersebut tetap menjadi tanggung jawab saya sepenuhnya," ujarnya, dalam unggahan di instagram.
Dia juga menekankan pentingnya belajar dari kritik dan masukan yang diterima masyarakat untuk memperbaiki cara berkomunikasi di ruang publik, dengan lebih bijaksana, jernih, dan empatik.
"Saya mencintai Indonesia, dengan segala harapan dan tantangannya, dan semoga saya tetap bisa terus berkontribusi untuk Indonesia hari ini dan di masa depan," demikian bunyi pernyataan itu.
"Semoga di bulan suci Ramadan ini, kita bisa saling menata hati, memperbaiki diri, dan fokus menjalankan ibadah sepenuh hati. Terima kasih atas perhatian dan doa baiknya."
(lav)





























