Logo Bloomberg Technoz

Penetapan tarif menyeluruh yang baru ini secara efektif mengatur ulang arena permainan bagi mitra dagang Amerika. China, yang juga melihat tarif fentanyl sebesar 10% dibatalkan pengadilan, kini menghadapi beban ekspor yang tidak terlalu menghukum. Sebaliknya, pihak yang dirugikan justru mencakup negara-negara seperti Inggris dan Australia yang sebelumnya telah menegosiasikan tarif lebih rendah sebesar 10% di bawah kerangka kerja "timbal balik" yang lama.

Pejabat senior AS kini mendesak mitra dagang seperti Uni Eropa dan Jepang untuk tetap memegang teguh komitmen yang telah disepakati dalam negosiasi sebelumnya. Mereka juga mengupayakan kelanjutan gencatan senjata dagang satu tahun dengan Beijing, terutama menjelang rencana kunjungan Trump untuk menemui Presiden Xi Jinping. China sendiri belum memberikan komentar resmi karena sedang berada dalam masa libur panjang.

"Kami ingin memastikan China mematuhi bagian mereka dalam kesepakatan tersebut," ujar Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, kepada Fox News Sunday. "Itu berarti mereka harus tetap membeli produk-produk yang telah mereka janjikan."

Di sisi lain, Kanada dan Meksiko turut diuntungkan karena tarif terkait fentanyl tidak lagi berlaku. Jika pengecualian di bawah perjanjian perdagangan USMCA tetap dipertahankan, kedua negara ini akan berada dalam "posisi yang sangat menguntungkan," menurut analis BE.

Meskipun putusan pengadilan menambah lapisan ketidakpastian baru, para analis menunjuk pada ketahanan perdagangan global selama setahun terakhir. Ekonom di Goldman Sachs Group Inc memperkirakan bahwa kombinasi putusan Mahkamah Agung dan pengumuman tarif baru hanya akan sedikit mengubah kenaikan tarif efektif sejak awal 2025—dari sebelumnya 10 poin persentase menjadi 9 poin persentase.

“Impor dari negara-negara yang mengalami pengurangan tarif signifikan kemungkinan besar akan meningkat dalam beberapa bulan mendatang,” tulis para ekonom Goldman Sachs. Namun, mereka memperkirakan dampak terhadap PDB secara keseluruhan akan relatif netral karena adanya penyesuaian stok inventaris, pola konsumsi, serta pengurangan impor dari jalur-jalur perdagangan yang sebelumnya digunakan untuk menghindari tarif.

(bbn)

No more pages