Logo Bloomberg Technoz

Dalam dokumen Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang dilansir Gedung Putih terungkap bahwa Indonesia harus memfasilitasi dan mendorong peningkatan impor batu bara kokas dari AS. Namun, besaran volume maupun nilainya masih belum diperinci.

AS hanya menyebut bahwa langkah itu dilakukan guna mendukung "produksi baja, industrialisasi lokal, dan keandalan serta keamanan energi, serta mengurangi ketergantungan pada impor dari pihak yang memanipulasi pasar,” tulisnya dalam dokumen tersebut.

Selain  menaikkan impor batu bara kokas, Indonesia juga diminta meningkatkan penggunaan teknologi batu bara AS.  

Nantinya, Indonesia akan bermitra dalam mempercepat pengembangan, penerapan, hingga komersialisasi teknologi.

Indonesia sendiri merupakan produsen terbesar kedua batu bara jenis termal yang lebih banyak digunakan pembangkit listrik. 

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat realisasi produksi batu bara nasional sepanjang 2025 mencapai 790 juta ton, anjlok 5,5% dari capaian sepanjang 2024 sejumlah 836 juta ton.

Sebagian besar produksi itu disalurkan untuk pasar ekspor, yaitu sekitar 514 juta ton atau 65,1% dari total produksi. Sementara itu, realisasi penyaluran batu bara untuk pasar domestik mencapai 254 juta ton atau 32%.

Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekspor batu bara terkoreksi 3,66% ke level 390,93 juta ton sepanjang Januari—Desember 2025, lebih rendah dari periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 405,76 juta ton.

Berdasarkan nilainya, kinerja ekspor batu bara sepanjang 2025 turun 19,7% ke level US$24,48 miliar atau sekitar Rp411,14 triliun (asumsi kurs Rp16.795 per dolar AS).

Torehan kinerja ekspor batu bara tahun lalu terpaut lebar dari capaian sepanjang 2024 di level US$30,49 miliar atau sekitar Rp512,07 triliun.

-- Dengan asistsnesi Azura Yumna Ramadani Purnama

(ibn/wdh)

No more pages