Permintaan Turun, Peternak Lebah Selandia Baru Terancam Bangkrut
News
31 January 2023 17:36
Bloomberg Technoz, Jakarta - Permintaan madu mānuka, yang diproduksi oleh lebah yang membuahi semak mānuka asli Selandia Baru selama pandemi melonjak karena pembeli di seluruh dunia mencari untuk menjaga kesehatan mereka. Permintaan dan harga yang tinggi membuat produksi madu ini menjadi cara cepat mendapatkan keuntung dikala pandemi.
Madu ini dijual seharga $3.700 per toples di Harrods di London. Namun seiringnya penurunan kasus Covid-19 para pembeli kini berkurang yang mengakibatkan adanya kelebihan pasokan produk yang dulunya langka. Kini peternak lebah berjuang untuk menutupi biaya produksi yang melonjak karena ekspor melemah dan harga jatuh untuk semua kecuali madu terbaik.
Baca Juga
Boomingnya madu ini membuat banyak peternak dadakan yang hanya mencari cara untuk menghasilkan uang dengan cepat.
“Banyak orang tidak benar-benar menyukainya, mereka hanya melakukannya untuk menghasilkan uang dengan cepat,” kata Maru Hoani, peternak lebah dari Hokianga di puncak Pulau Utara Selandia Baru yang dilansir dari Bloomberg News.
Pria berusia 32 tahun ini telah terlibat dalam pemeliharaan lebah sejak berusia 17 tahun, bekerja untuk peternak lebah komersial sebelum memulai bisnisnya sendiri. Selama bertahun-tahun, dia menyaksikan harga madu mānuka terus naik.
Namun, setelah mencapai puncaknya sekitar NZ$64 ($41) per kilogram, harga turun menjadi sekitar NZ$13 musim ini. Penghasilannya tidak cukup untuk menutupi biayanya, termasuk tes untuk menilai madu, pengendalian penyakit, dan biaya untuk pemilik tanah. Sekarang, Hoani mengatakan dia hampir gulung tikar.
(bbn)






















