Pengumuman politisi berusia 47 tahun ini tidak sepenuhnya mengejutkan. Sebelumnya, ia memang menyatakan sedang mempertimbangkan serius untuk maju. Namun, deklarasi kali ini terjadi tepat saat ia menghadapi upaya pemakzulan yang, jika berhasil, dapat mendepaknya dari jabatan dan melarangnya berpolitik seumur hidup.
Gugatan pemakzulan tersebut menghidupkan kembali tuduhan penyalahgunaan dana publik serta ancaman pembunuhan terhadap Marcos. Sara Duterte telah membantah seluruh tudingan tersebut.
"Secara efektif, ia sedang membentengi dirinya secara politik. Proses pemakzulan kini dapat dibingkai sebagai bagian dari kontestasi elektoral, alih-alih murni proses akuntabilitas konstitusional," kata Ederson Tapia, profesor administrasi publik di Universitas Filipina. "Bingkai tersebut memungkinkan kubunya berargumen bahwa kasus ini bermotif politik dan terkait dengan suksesi kekuasaan."
Sara, putri dari mantan Presiden Rodrigo Duterte, saat ini memiliki tingkat dukungan publik yang lebih tinggi dibandingkan Marcos. Ia dianggap sebagai kandidat terkuat untuk suksesi 2028 berkat basis massa loyalis di wilayah selatan. Sesuai konstitusi, Marcos wajib turun takhta setelah menyelesaikan satu masa jabatan enam tahun.
Sebelumnya, Wapres Sara sempat dimakzulkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat tahun lalu, namun Senat—yang bertindak sebagai pengadilan—membatalkan gugatan tersebut setelah Mahkamah Agung menyatakan adanya kesalahan prosedur.
Di sisi lain, sang ayah, Rodrigo Duterte, saat ini mendekam di tahanan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) di Den Haag atas tuduhan kejahatan kemanusiaan dalam perang narkoba yang menewaskan ribuan orang. Pemerintahan Marcos menyerahkan Rodrigo ke ICC tahun lalu, dan pekan depan, pengadilan akan mulai menyidangkan konfirmasi dakwaan terhadapnya.
Menanggapi deklarasi pencalonan Sara Duterte, Wakil Sekretaris Kantor Komunikasi Kepresidenan, Claire Castro, hanya berkomentar singkat, "Semoga beruntung."
(bbn)































