Data yang dirilis pada hari Jumat menunjukkan Indeks Harga Konsumen (IHK) AS naik 0,2% pada bulan Januari. Ini merupakan kenaikan terkecil sejak Juli, yang didorong oleh turunnya biaya energi. Meski biaya sektor jasa meningkat, harga barang-barang inti tetap stabil, dan IHK inti tahunan mencatat kenaikan terendah sejak tahun 2021.
Data tersebut memberikan angin segar bagi pasar obligasi (Treasury) dan mendukung narasi pemangkasan suku bunga. Imbal hasil (yield) obligasi 10 tahun dan 2 tahun AS turun lima basis poin pada hari Jumat. Saat ini, para pelaku pasar sepenuhnya memprediksi pemangkasan bunga pada Juli, dengan kemungkinan besar dimulai sejak Juni.
"Secara keseluruhan, data ini tidak akan mengubah kebijakan The Fed secara drastis, tetapi akan memuluskan jalan menuju pemangkasan suku bunga lebih cepat daripada nanti," ujar Neil Birrell dari Premier Miton Investors.
Sejumlah data ekonomi penting di Asia juga dijadwalkan rilis pekan ini, termasuk Produk Domestik Bruto (PDB) Thailand, produksi industri Jepang, serta data perdagangan dan pengangguran di India.
Dari China, Presiden Xi Jinping mengisyaratkan keinginan untuk "memanfaatkan sepenuhnya keunggulan pasar berskala super besar China." Dalam pidatonya yang dirilis Minggu kemarin, Xi menyerukan agar pertumbuhan ekonomi difokuskan pada penguatan permintaan domestik. Di sisi lain, Goldman Sachs Group Inc menaikkan proyeksi surplus transaksi berjalan China tahun ini, meskipun prospek ekuitas China dibayangi oleh kinerja laba perusahaan yang memburuk.
Investor juga terus memantau perkembangan geopolitik. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi menegaskan kembali komitmen untuk memperdalam hubungan bilateral dalam pertemuan Sabtu lalu, di tengah meningkatnya ketegangan Jepang dengan China.
Federal Reserve
Meskipun data inflasi menunjukkan tren penurunan, sejumlah analis memperingatkan bahwa proses ini berjalan lambat. James McCann dari Edward Jones menilai tekanan harga masih sedikit di atas level nyaman, meski arahnya terus menuju ke bawah.
"Bagi The Fed, ini mungkin tidak mengubah banyak hal dalam jangka pendek," kata McCann. "Kami melihat adanya ruang untuk pelonggaran lebih lanjut akhir tahun ini, namun itu bergantung pada penurunan inflasi yang lebih meyakinkan menuju target."
Senada dengan itu, Gubernur The Fed Chicago Austan Goolsbee menegaskan bahwa bank sentral bisa menurunkan suku bunga lebih lanjut jika inflasi berada dalam jalur menuju target 2%. Namun, ia mengakui kondisi saat ini belum mencapai titik tersebut.
"Saat ini kita belum berada di jalur kembali ke 2%. Kita seolah tertahan di level 3%, dan itu tidak bisa diterima," ujar Goolsbee pada hari Jumat melalui Yahoo! Finance.
(bbn)





























