Logo Bloomberg Technoz

Belum Ada Pembeli

Adapun, hingga saat ini Inpex masih belum mendapatkan pembeli gas dari lapangan di Blok Masela tersebut.

Djoko mengaku akan terus mendorong Inpex agar segera menemukan pembeli gas dari lapangan tersebut. Apalagi, SKK Migas telah memberikan berbagai kemudahan dalam proses pengurusan perizinan Inpex untuk menggarap lapangan gas alam raksasa tersebut.

“Kita kasih semua. Sekarang kita menuntut, yuk jual cepat, gitu. Jadi paralel. Jangan sampai nanti kita disalahkan terus. 'Oh, pemerintah izinnya belum ada, kita ngambang'. Nah, sekarang semua udah kita kasih,” ujar Djoko.

“Sekarang tinggal kuncinya ada di dia [Inpex]. Bagaimana dia cepat mencari buyer-nya,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Djoko mengungkapkan Inpex bakal melakukan pembangunan perdana proyek Lapangan Gas Abadi di Blok Masela pada tahun ini, tepatnya pada akhir Maret 2026 atau sebelum Idulfitri 1447 H.

Djoko mengungkapkan dokumen analisis dampak lingkungan (Amdal) Blok Masela diharapkan terbit dalam waktu dekat atau setidaknya sebelum akhir Maret.

“Itu mudah-mudahan ini bisa groundbreaking juga sebelum Lebaran, sekarang sedang persiapan untuk groundbreaking, di lapangan,” kata Djoko.

Proyek Abadi Masela ditaksir sanggup memproduksi 9,5 juta ton gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) per tahun, setara dengan lebih dari 10% impor LNG tahunan Jepang.

Selain itu, proyek ini juga diestimasikan mengakomodasi gas pipa 150 MMSCFD, serta 35.000 barel kondensat per hari (BCPD).

Saat ini, pemegang hak partisipasi atau participating interest (PI) di Blok Masela adalah Inpex Masela Ltd. dengan porsi 65%. Tadinya, sisa 35% hak partisipasi di blok tersebut dikendalikan oleh Shell Upstream Overseas Services Ltd.

Per Juli 2023, sebanyak 35% hak Partisipasi Shell dilego ke PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Masela dan Petrolian Nasional (Petronas) Masela Berhad dengan pembagian porsi masing-masing sebesar 20% dan 15%.

Adapun, SKK Migas sempat mengonfirmasi terdapat tambahan biaya investasi di Blok Masela untuk mengimplementasikan penambahan fasilitas carbon capture storage (CCS).

Perusahaan migas asal Negeri Sakura tersebut menambah biaya US$1 miliar atau setara Rp16,34 triliun (asumsi kurs Rp16.350) untuk proyek tangkap-simpan karbon di Blok Masela.

Dengan demikian, proyek yang awalnya senilai US$20,94 miliar, kini bengkak menjadi US$21,94 miliar.

(azr/wdh)

No more pages