"Untuk pertama kalinya, kita akan menyatukan segalanya di bawah satu komando," jelas Rutte saat ditanya mengenai keunggulan misi baru ini.
NATO telah berupaya memperkuat eksistensinya di Arktik sejak Trump bersikeras ingin menganeksasi Greenland pada Januari lalu. Pulau yang sebagian besar tertutup es ini memiliki kepentingan strategis yang kian meningkat seiring pemanasan global yang membuka wilayah baru dan rute pelayaran.
Kementerian Pertahanan Denmark menyatakan akan memberikan "kontribusi substansial" dalam misi ini melalui koordinasi erat dengan Greenland dan Kepulauan Faroe.
"Kami juga membutuhkan kerja sama yang lebih erat dengan sekutu NATO lainnya terkait berbagai kapabilitas yang mungkin disertakan," ujar Menteri Pertahanan Denmark Troels Lund Poulsen. Ia menambahkan bahwa Denmark berharap bisa bekerja sama dengan Jerman, termasuk dalam penggunaan pesawat pengintai P-8.
Misi Arctic Sentry ini memiliki pola serupa dengan misi 'Eastern Sentry' yang diluncurkan pada 2025 untuk menghalau pelanggaran wilayah udara oleh drone dan jet Rusia. Seperti pendahulunya, misi Arktik ini akan fokus pada reorganisasi aset yang sudah ada.
Selain isu Arktik, para pejabat NATO pada Kamis ini akan mendengarkan paparan dari Wakil Menteri Pertahanan AS Bidang Kebijakan, Elbridge Colby. Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dipastikan tidak hadir.
Negara-negara Eropa kini tengah memantau ketat tinjauan kekuatan militer Washington, yang diperkirakan akan menggeser fokus pertahanannya dari Eropa ke Asia. Sebagai respons, NATO pekan ini mengumumkan redistribusi peran militer senior yang memberikan tanggung jawab lebih besar kepada Eropa.
Inggris dan Italia akan mengambil alih Komando Pasukan Gabungan masing-masing di Norfolk dan Naples, sementara Jerman dan Polandia akan berbagi kepemimpinan di Brunssum. Meski demikian, AS tetap memegang peran kunci sebagai Panglima Tertinggi Sekutu Eropa (SACEUR) dan mengambil alih Komando Maritim Sekutu dari Inggris.
Dalam pertemuan Kamis, aliansi tersebut juga diharapkan menyepakati daftar baru pembelian senjata untuk Ukraina yang sangat membutuhkan sistem pertahanan udara.
Mengingat Trump memangkas sebagian besar bantuan langsung ke Ukraina, sekutu NATO kini membeli banyak senjata dari AS melalui program PURL. Inggris diperkirakan akan menyumbang £150 juta (sekitar Rp3,4 triliun) ke program tersebut. Duta Besar AS untuk NATO, Matthew Whitaker, memuji kontributor terbesar program ini, yaitu Norwegia, Belanda, dan Jerman.
(bbn)






























