Hal ini turut sejalan dengan data Bank Indonesia (BI) yang mencatat bahwa realisasi kredit UMKM sepanjang 2025 mengalami kontraksi 0,3% secara tahunan atau year-on-year (yoy). Secara rinci, Realisasi kredit usaha kecil meningkat 6,8%, usaha menengah terkontraksi -2,02%, dan usaha mikro bahkan mengalami kontraksi hingga -4,68%.
Berdasarkan Porsinya, pangsa kredit UMKM juga terus merosot dari tahun ke tahun. Pada Desember 2023, pangsa kredit UMKM tercatat sebesar 20,55% terhadap seluruh total kredit. Kemudian, menurun menjadi 19,24% pada Desember 2024. Lalu kembali menyusut menjadi 17,49% sampai Desember 2025.
Di sisi lain Banjaran mengklaim, ketersediaan dana perbankan sempat mengalami penurunan hingga Januari 2026. Akibatnya, kondisi ini mendorong persaingan antarbank dalam menghimpun dana kembali meningkat belakangan ini.
Sebagai catatan saja, dana pihak ketiga (DPK) perbankan pada Desember 2025 tercatat mencapai Rp9.467,6 triliun, tumbuh 10,4% yoy.
Sementara, ia menilai pola transmisi kebijakan suku bunga kini mengalami perubahan. Jika sebelumnya perbankan lebih dulu menyesuaikan suku bunga dana setelah BI memangkas suku bunga acuan, kini Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) justru lebih cepat menyesuaikan tingkat bunganya.
"Begitu BI-rate turunkan rate, LPS rate langsung adjust itu yang membuat perbankan itu pasti akan berpikir kalau dia tidak adjust rate dananya dia, banyak dana itu akhirnya tidak terjamin oleh LPS," ungkapnya.
Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memaparkan penyebab lambatnya penurunan bunga kredit. Penyebabnya mulai dari aksi bank menahan penyaluran kredit hingga laba perbankan yang turun.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menilai Indonesia dalam waktu yang lama berada dalam rezim suku bunga yang tinggi dan ketika itu bank tidak menaikkan suku bunga. Walhasil sekarang waktunya bank kembali menyelaraskan tingkat suku bunga kredit setelah suku bunga acuan BI turun.
"Saya bukan membela bank, sehingga untuk adjust ke kredit waktunya lama. Jadi durasi implementasi policy lama tapi sekarang sudah mulai kelihatan," kata Dian dalam gelaran economy outlook 2026, Selasa (10/2/2026).
Dia juga menjelaskan adanya kebijakan bank menempatkan dananya pada instrumen investasi bukan menyalurkan kredit karena permintaan yang kurang dari para pengusaha dan pasar secara lebih luas.
"Kalau orang ada menanyakan wah ini kok lazy bank-bank itu taruh uangnya di SBN atau SRBI lazy gitu. Enggak juga. SRBI berapa? SBN berapa tingkat suku bunganya? Kalau kreditnya pasti di atas 10%," ujarnya.
Dian meyakini apabila terdapat peluang yang lebih menguntungkan, pihak perbankan pasti akan memilih upaya tersebut.
"Pasti lebih menguntungkan kalau ada demand kredit, [bank] pasti orang ngambil kredit dong [dibanding SBN-RSBI]," ungkap Dian.
(prc)

































