Logo Bloomberg Technoz

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu diprediksi akan mendesak Trump untuk menuntut konsesi lebih besar dari Iran dalam pertemuan di Gedung Putih pada hari Rabu.

"Pembicaraan pada akhirnya akan kandas, dan kita kemungkinan besar tetap akan melihat serangan udara pada suatu titik," ujar Dina Esfandiary, analis dari Bloomberg Economics. "Pertanyaan kuncinya adalah seberapa lama pembicaraan ini bertahan sebelum pecah, dan seberapa lama kesabaran Trump akan bertahan."

Situasi semakin rumit akibat strategi keseimbangan Trump. Di satu sisi ia bernegosiasi, namun di sisi lain ia terus melontarkan ancaman serangan udara secara publik dan membanggakan "armada" AS yang sedang berkumpul di Timur Tengah.

Pemerintahan Trump saat ini merasa di atas angin setelah keberhasilan operasi khusus yang menangkap pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro, pada Januari lalu. Melalui media sosial, Trump menyatakan bahwa "seperti di Venezuela," Angkatan Laut AS "siap, bersedia, dan mampu menjalankan misinya dengan cepat dan penuh kekerasan jika diperlukan."

Pasar saat ini tengah menimbang peluang serangan udara AS melawan skeptisisme yang disebut TACO (Trump Always Chickens Out—istilah yang merujuk pada anggapan bahwa Trump selalu ragu di saat terakhir). Namun, analisis Bloomberg Economics menemukan bahwa pada masa jabatan keduanya, Trump lebih cenderung merealisasikan ancamannya.

Menteri Luar Negeri Marco Rubio pekan lalu menegaskan syarat mutlak AS. "Agar pembicaraan ini menghasilkan sesuatu yang berarti, cakupannya harus mencakup jangkauan rudal balistik mereka, dukungan terhadap organisasi teroris di kawasan, program nuklir, hingga perlakuan mereka terhadap rakyatnya sendiri."

Bagi Teheran, menyetujui tuntutan luas AS tersebut sama saja dengan kapitulasi total—menyerahkan senjata dan kebijakan regional yang telah menjadi inti strategi bertahan hidup Republik Islam itu sejak revolusi 1979. Apalagi, Iran kini tengah bergelut dengan ekonomi yang hancur dan kerusuhan domestik terdahsyat dalam beberapa dekade terakhir.

Rekam jejak Trump yang menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir 2015, serta pembatalan pakta dagang dengan Kanada dan Meksiko, membuat kesepakatan apa pun nantinya akan dianggap tidak dapat diandalkan.

"Jika Anda melihatnya seperti diagram Venn, tidak ada irisan sama sekali di sana," kata Naysan Rafati, analis senior Iran di Crisis Group, merujuk pada prioritas yang saling bertentangan. "Terkait potensi konfrontasi militer, kita masih jauh dari zona aman."

Meskipun serangan AS dan Israel dalam "Operasi Midnight Hammer" Juni lalu diklaim Trump telah melumpuhkan kemampuan militer dan nuklir Iran, Teheran dinilai masih mampu membalas. Michael Singh dari Washington Institute menilai bahwa dengan ancaman yang datang dari dalam dan luar negeri, rezim Iran memiliki "alasan untuk takut akan kelangsungan hidupnya."

"Bahkan jika mereka tidak bisa menang, mereka akan mencoba membuat konflik ini menjadi sangat mahal bagi Amerika Serikat," ujar Singh. Ia menambahkan bahwa desakan AS untuk kesepakatan komprehensif justru memperbesar peluang bentrokan. "Standar yang dipasang AS sangat tinggi. Jika itu benar-benar standarnya, maka serangan militer adalah hasil yang paling mungkin terjadi."

(bbn)

No more pages