Logo Bloomberg Technoz

Sumber Potensi LTJ

Dalam kesempatan itu, Brian menjelaskan terdapat tiga sumber LTJ yakni; sumber primer, sumber sekunder, dan sumber tersier.

Untuk sumber primer, sumber LTJ berasal langsung dari endapan mineral utama seperti laterit dan ion adsorption clay (IAC).

Sumber sekunder LTJ berasal dari produk ikutan dan mineral asosiasi hingga residu dan tailing dari timah, bauksit. Lalu, abu sisa pembakaran batu bara (FABA) pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara juga memiliki kandungan LTJ.

Sumber tersier berasal dari daur ulang produk akhir berbasis teknologi tinggi seperti gawai pintar dan laptop.

“Jumlahnya di Indonesia sangat besar karena penduduk kita sangat besar. Itu juga menjanjikan proses ekonomi yang sekarang sudah dilakukan oleh negara-negara lain untuk mengamankan pasokan logam tanah jarangnya,” ungkap dia.

Dalam bahan paparannya, dijelaskan bahwa pengembangan LTJ nasional perlu memanfaatkan sumber sekunder untuk jangka pendek, sumber primer untuk keberlanjutan, dan sumber tersier untuk jangka panjang.

Adapun, mengutip situs resmi Kementerian ESDM, LTJ atau REE merupakan kelompok unsur logam yang dalam tabel periodik termasuk ke dalam 15 unsur deret lantanida yaitu lanthanum (La), cerium (Ce), praseodymium (Pr), neodymium (Nd), promethium (Pm), samarium (Sm).

Lalu, europium (Eu), gadolinium (Gd), terbium (Tb), dysprosium (Dy), holmium (Ho), erbium (Er), thulium (Tm), ytterbium (Yb), dan lutetium (Lu). Ditambah dua unsur lain yakni scandium (Sc) dan yttrium (Y).

LTJ biasanya dijumpai pada berbagai jenis deposit seperti batuan beku peralkalin, deposit iron-oxide-copper-gold, intrusi batuan beku pegmatit, batuan metamorf, dan endapan sekunder berupa endapan aluvial laterit.

“Endapan logam tanah jarang terdiri atas endapan primer dan endapan sekunder. Endapan primer berkaitan erat dengan proses magmatik dan hidrotermal, sedangkan endapan sekunder berhubungan dengan aktivitas pelapukan dan endapan sedimentasi yang terbentuk pada berbagai lingkungan seperti sungai, pantai, kipas aluvial dan delta,” tulis Kementerian ESDM dalam situs resminya.

LTJ juga bisa terkumpul di sisa endapan mineral yang terbentuk di permukaan bumi, seperti pada nikel laterit, bauksit, dan timah plaser.

Mengutip Buku Tambang Tanah Jarang 2020 milik Kementerian ESDM, dijelaskan bahwa terdapat beberapa potensi LTJ di Tanah Air. Pertama, potensi monazite dan xenotime dari pengolahan bijih timah seperti di Bangka Belitung.

Kedua, terdapat potensi zirconium silicate dari pengolahan bijih timah dan emas di dalam pasir zirkon di wilayah tambat pasir Kalimantan.

Ketiga, terdapat potensi rare earth ferrotitanates dari residu hasil pengolahan bauksit menjadi alumina di Red Mud Kalimantan Barat.

Keempat, terdapat potensi bijih nikel laterit dengan spesifikasi tertentu dari pengolahan bijih nikel laterit melalui proses hidrometalurgi berbasis high pressure acid leaching atau HPAL di tambang nikel limonit di Sulawesi.

Kementerian ESDM juga melaporkan terdapat beberapa potensi LTJ lainnya dari batuan granit, abu batu bara, dan sejumlah mineral lainnya.

(azr/wdh)

No more pages