Logo Bloomberg Technoz

Namun, Irfan bilang bahwa insentif otomotif ini penting bagi produsen saat ini mengingat tren penjualan mobil yang terus turun dari tahun ke tahun dimulai sejak berakhirnya pandemi COVID lalu.

“Jadi memang bisa dibilang memang insentif dibutuhkan. Insentif atau subsidi gitu ya untuk membantu daya beli konsumen gitu ya. Tapi ya itu, kita so far juga masih tunggu.” sebut Irfan.

Senada, PT Suzuki Indomobil Sales juga menyebut bahwa insentif pemerintah menjadi hal penting yang diperlukan industri otomotif selain dengan kondisi perekonomian dan juga faktor internal perusahaan.

“Kalau kita bicara stimulus yang lain adalah salah satu contohnya adalah bagaimana pada saat di tahun 2020-2021 pada saat terjadi COVID-19 ada stimulus fiskal yaitu pembebasan PPNBM. Ini juga akan membantu dan mendonggerak market menjadi stimulus.” kata Deputy Managing Director PT Suzuki Indomobil Sales Donny Saputra, Kamis (5/2/2026).

Sementara, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) mengungkapkan hingga kini masih menunggu kabar pemberian insentif bagi kendaraan Internal Combustion Engine (ICE) dan juga mobil hybrid. Toyota meyakini pemberian insentif tersebut bakal meningkatkan penjualan industri otomotif hingga pertumbuhan ekonomi Indonesia. 

“Ya sebenarnya kan kita menunggu dari kebijakan pemerintah saja, namun negara yang punya insentif dari hybrid pasti lebih baik,” kata Presiden Direktur PT TMMIN, Nandi Julyanto ditemui di gelaran IIMS 2026, dikutip Jumat (6/2/2026). 

Nandi menjelaskan pasar otomotif Indonesia tengah stagnan seperti saat pandemi Covid 19 nantinya akan tumbuh ketika pemerintah memberikan stimulus. Jika pasar otomotif tumbuh, maka akan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi di Tanah Air. 

“Tentu balik ke pemerintahnya juga lebih besar harapannya gitu ya [ada insentif] seperti pengalaman waktu Covid 19,” ujarnya. 

“Kalau itu kan kita enggak tahu bolanya bukan pada kita, tapi kalau kita sih berharap insentif bisa menjadi penggerak. Kita berharap itu terjadi terutama untuk level-level yang entry segmen.”

Bagaimanapun, Nandi mengatakan hingga kini TMMIN turut menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB)/Gross Domestic Product (GDP) yang lumayan tinggi bagi Indonesia. 

Di sisi lain, Vice Presiden PT Toyota Astra Motor, Henry Tanoto menuturkan pemberian insentif yang tak kunjung jelas belum tercermin terhadap penjualan mobil Toyota. Dia pun menyebut tidak melihat tren penundaan bagi mobil Toyota. Bahkan penjualan mobil Toyota pada semester 2 lebih baik dibanding semester 1. 

“Kalau dari kemarin enggak ada tren penundaan jadi kita harapkan market bisa lebih baik dari tahun lalu. Kalau untuk insentif kita tunggu saja kabarnya pastinya seperti apa baru kita bisa komentar,” ucap Henry. 

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita sebelumnya sudah memberikan bocoran soal rencana pemberian insentif otomotif untuk 2026 mendatang, yang juga telah diusulkan lewat surat yang dikirim ke Purbaya.

Agus mengatakan insentif otomotif di 2026 akan dibuat lebih detail dan terperinci. Insentif tahun ini dipastikan akan berbeda dari yang dilakukan selama beberapa tahun ke belakang.

"Ada sedikit perbedaan. Di sini yang kita usulkan lebih detail dibandingkan ketika menghadapi Covid-19. Dari segmen, dari teknologi, dari sisi TKDN [tingkat komponen dalam negeri]," ujar Agus, Rabu (31/12/2025).

Menurut Agus, pemberian insentif tersebut juga akan mengamanatkan sejumlah syarat yang mesti dipenuhi oleh perusahaan. Pemerintah, kata dia, juga akan mengatur batas harga di setiap segmen kendaraan.

"Kita dalam usulan ini menetapkan harga, harga yang kita terapkan dari masing-masing segmen agar mereka bisa mendapatkan manfaat, dan tentu yang harus kita garis bawahi adalah kami sangat memperhatikan konsumen," tutur dia.

“Yang paling penting juga, bagi negara adalah cost and benefit. Tentu Kemenperin tidak mau menyampaikan usulan yang itu kemudian membuat negara cekat atau defisit."

Belakangan, beredar kabar jika saat ini juga tengah terjadi pembahasan maraton mengenai insentif tersebut. Pembahasan dilakukan antara Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) dengan Kemenperin juga melibatkan seluruh produsen kendaraan ataupun ATPM (Agen Tunggal Pemegang Merek).

Dalam dokumen yang diterima redaksi, insentif yang kemudian diistilahkan dengan stimulus diusulkan dibagi menjadi dua opsi. Kemenperin akan memutuskan salah satu dari dua opsi tersebut dan akan diumumkan usai libur natal tahun ini. 

Opsi pertama, meliputi pembebasan Pajak Barang Mewah (PPnBM) untuk mobil ICE dan Hybrid sebesar 100% untuk ICE di bawah Rp275 juta, Hybrid dan BEV di bawah Rp375 juta dan Commercial Pick up di bawah Rp275 juta.

Pada insentif BEV, usulan insentif diberikan berdasarkan penggunaan baterai. Baterai NMC (Nickel Manganese Cobalt) akan dikenakan diskon PPN 100%, dan penggunaan baterai LFP (Lithium Iron Phosphate) maka PPN akan dikenakan 6% setelah pemberian insentif sebesar 50%.

Sementara itu opsi kedua lebih berfokus pada pembebasan PPN sebanyak 100% untuk ICE di bawah Rp275 juta, Hybrid dan BEV di bawah Rp375 juta dan Commercial Pick up di bawah Rp275 juta. Sedangkan skema insentif pada BEV tetap menggunakan skenario seperti opsi pertama.

(ell)

No more pages