Hanya Fitch Ratings yang belum menyatakan posisinya terhadap kondisi Indonesia saat ini. Namun pada 2024, Fitch sempat memberi catatan khusus terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diprediksi akan menyebabkan adanya ketidakpastian fiskal jangka menengah lantaran program janji kampanye ini membutuhkan banyak biaya.
Sebenarnya kita dapat terjemahkan perhatian dari lembaga pemeringkat ini sebagai masukan yang baik, bahwa mereka tidak ingin Indonesia kembali jatuh ke dalam lubang yang sama, setelah perjuangan yang panjang dalam melakukan disiplin fiskal agar mendapat kepercayaan investor global.
Sebagai pengingat, Indonesia pernah begitu susah payah memperbaiki kredibilitas Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Bagi lembaga keuangan internasional, APBN merupakan simbol disiplin sebuah negara.
Sebelum dan Setelah Krismon
Sebelum krisis moneter (krismon) yang melanda Asia pada 1997-1998, Indonesia sebenarnya sudah berstatus investment grade. S&P melabeli pasar domestik BBB, dan Moody’s Baa3.
Namun kemudian, setelah krisis terjadi, Indonesia terlempar dari status itu, dan rating anjlok ke level CCC/B- oleh S&P dan Fitch ratings, menyusul adanya ketidakstabilan dalam politik domestik, runtuhnya industri perbankan, dan kondisi fiskal-moneter Indonesia juga kolaps.
Pengalaman krisis moneter 1997-1998 jadi titik balik yang membuat kebijakan fiskal Indonesia. Pemerintah secara konsisten membangun kerangka fiskal yang ketat: membatasi defisit, menurunkan rasio utang secara bertahap, memperkuat basis penerimaan negara, serta menegakkan aturan fiskal sebagai jangka kebijakan. Disiplin inilah yang perlahan mengembalikan kepercayaan lembaga rating dan investor global.
Kenaikan dari rating dari CCC ke Baa2, tidak ditempuh dengan cara instan. Setidaknya Indonesia perlu membangun ulang kredibilitasnya selama dua dekade lebih. Hasilnya, rating Indonesia berangsur naik.
Era 2014-Sekarang
Indonesia mulai mendapatkan status investment grade dengan outlook stabil bahkan positif pada 2017-2018. Melansir informasi dari Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal, Kementerian Keuangan, Fitch menetapkan peringkat utang Indonesia BBB dengan outlook stabil. Ini merupakan kenaikan peringkat yang diberikan Fitch setelah memasukkan Indonesia ke dalam kategori investment grade pada 2011, dan meningkatkan peringkatnya ke BBB pada Desember 2017.
Dalam catatannya, Fitch menyatakan bahwa tingkat beban utang pemerintah yang rendah dan pertumbuhan ekonomi yang baik jadi faktor positif bagi peringkat utang Indonesia. Fitch juga melihat kondisi keuangan eksternal Indonesia kala itu lebih kuat daripada periode Taper Tantrum 2013-2015. Ini merupakan hasil dari disiplin fiskal dan langkah makroprudensial yang meredam kenaikan tajam utang luar negeri swasta.
Fitch juga menganggap pertumbuhan ekonmi Indonesia kala itu lebih baik dibandingkan negara-negara peers, dengan proyeksi pertumbuhan mengalami peningkatan menjadi 5,2% pada 2019, dan 5,3% pada 2020 dengan adanya dukungan belanja infrastruktur publik.
Dengan status investment grade ini, artinya pasar keuangan Indonesia kembali diterima di klub investor institusional global, seperti dana pensiun, perusahaan asuransi, dan manajer aset besar, yang secara aturan hanya boleh menempatkan dana pada negara berperingkat layak investasi. Tanpa status itu, sumber pembiayaan Indonesia menjadi lebih sempit dan lebih mahal.
Meski pandemi Covid-19 pada 2020 hingga 2022 sempat membuat perekonomian domestik runtuh, tetapi lembaga rating masih melabel pasar Indonesia Baa2 stabil (Moody’s), BBB stabil (Fitch Ratings), dan BBB negatif (S&P) pada 2020. Kemudian pada 2021 outlook S&P pun naik menjadi stabil.
Ketiga lembaga tersebut memproyeksikan bahwa kemampuan membayar utang jangka panjang Indonesia masih dalam kondisi baik, terlihat dari penanganan pandemi yang cukup optimal dan pengurangan hambatan investasi, sehingga outlook yang diberikan masih positif dan stabil meski kondisi ekonomi dalam posisi terendah dan defisit fiskal melebar melampaui batas yang diatur undang-undang.
Hingga kemarin, outlook baru dari Moody’s mengubah pandangan terkait pasar Indonesia. Meski masih dalam level investment grade, tetapi jika tidak ada perubahan dalam 6 hingga 24 bulan maka penurunan rating mungkin akan terjadi.
Sementara S&P masih melabel Indonesia BBB dengan outlook stabil, dengan tetap menyoroti kondisi fiskal sebagai pertimbangan penurunan outlook dan rating lebih lanjut.
Pengaruh Rating
Bagi sebuah negara yang masuk dalam sistem perdagangan bebas dan perekonomian global, rating bukan sekadar label atau hanya angka di laporan. Rating menjadi ringkasan kepercayaan dunia terhadap cara negara itu mengelola ekonominya, hari ini dan ke depan.
Bisa dikatakan, rating menjadi paspor keuangan global yang akan menentukan seberapa mahal sebuah negara bisa mengajukan utang, dan siapa saja yang bersedia membiayainya.
Para praktiknya, lembaga rating seperti Moody’s, Fitch, S&P, sangat sensitif terhadap terjadinya pelebaran defisit, lonjakan utang, kebijakan fiskal yang cenderung populis, serta ketidakpastian arah kebijakan politik.
Lembaga pemeringkat internasional smembagi peringkat kredit ke dalam dua kelompok besar, yakni investment grade dan speculative grade, berdasarkan tingkat risiko.
Untuk S&P dan Fitch, peringkat BBB- ke atas masuk kategori investment grade, sementara BB+ ke bawah tergolong spekulatif. Moody’s menggunakan batas Baa3 sebagai ambang investment grade, dengan peringkat di bawahnya diklasifikasikan sebagai speculative grade. Pembagian ini krusial karena banyak investor institusional global hanya diizinkan menempatkan dana pada negara atau instrumen berstatus investment grade.
Dalam konteks Indonesia, posisi di level investment grade adalah jangkar kepercayaan pasar, terutama bagi aliran modal jangka panjang ke pasar obligasi dan valuta asing. Oleh karena itu, perubahan outlook, yang mencerminkan arah peringkat dalam satu hingga dua tahun ke depan, sering kali lebih cepat memengaruhi sentimen pasar dibandingkan perubahan peringkat itu sendiri.
Ketika outlook dipangkas atau ditempatkan dalam pengawasan atau credit watch, pasar cenderung langsung menaikkan premi risiko, menekan nilai tukar rupiah, dan meningkatkan volatilitas imbal hasil surat utang negara, meskipun peringkat formal belum berubah.
Dua pekan terakhir, pengaruh perubahan pandangan lembaga pemeringkat rating ini cukup terasa. Hari ini, rupiah kembali susut 0,22%, menggenapi penyusutannya sepanjang pekan 0,48%.
Sejak awal tahun (year-to-date/ytd), rupiah menjadi yang terlemah kedua di pasar Asia dengan penyusutan sebesar 1,04%. Hanya lebih baik dari won Korea Selatan yang tergerus 1,84%.
Dari pasar surat utang, meski terlihat lebih tenang dan masih mencatatkan arus modal asing masuk sebesar US$470 juta setara dengan Rp7,9 triliun menggunakan nilai kurs yang sama, tetapi yield pasar surat berharga negara menjadi diganjar lebih mahal dan akan berimbas pada beban kewajiban yang harus dibayarkan pemerintah.
Sementara dari pasar saham, respons terdengar paling nyaring dan terjadi arus modal asing keluar sebesar US$712,7 juta, (ytd) setara dengan Rp11,97 triliun dengan kurs Rp16.800/US$.
(dsp/aji)




























