Sentimen kehati-hatian pasar juga dipengaruhi oleh langkah Moody’s Investors Service yang sebelumnya telah menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif. Meski peringkat kredit tetap dipertahankan di level investment grade, perubahan outlook tersebut meningkatkan premi risiko aset domestik, terutama di tengah kondisi global yang belum sepenuhnya kondusif.
Dari pasar surat utang, sore ini hampir semua tenor mengalami kenaikan yield. Tenor 1Y mengalami kenaikan yield 4,3 bps ke 4,97%, 2Y naik 6,9 bps ke 5,11%, tenor 5Y naik 11,4 ke 5,78%, dan 10Y naik 10,7 bps ke 6,44%.
Begitu juga dengan pasar saham yang sore ini masih dalam tren pelemahan dan menyusut 2,62% pada 15.20 WIB ke 7.891,6. Data Bloomberg menampilkan terjadinya arus keluar modal asing sebesar US$27,9 juta di pasar saham pada sesi perdagangan kemarin.
Bagi negara berkembang seperti Indonesia, rating menjadi krusial karena struktur pembiayaan ekonomi masih sangat bergantung pada persepsi risiko. Lembaga rating atau rating agency seperti Moody’s, Fitch, atau S&P sangat sensitif terhadap terjadinya pelebaran defisit, lonjakan utang, kebijakan fiskal yang cenderung populis, serta ketidakpastian arah kebijakan politik.
(riset/aji)





























