Dia didakwa oleh Mahkamah Pidana Internasional atas kejahatan terhadap kemanusiaan, dan pada 2015, pengadilan Libya menjatuhkan hukuman mati in absentia padanya bersama orang lain atas pembunuhan massal selama pemberontakan tersebut.
Qaddafi muda kembali menjadi sorotan pada 2021, ketika ia memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai presiden dalam Pemilu yang seharusnya menyatukan Libya yang terpecah menjadi dua pemerintahan yang saling bertentangan di timur dan barat.
Dia mendapatkan dukungan lokal untuk pencalonannya, yang juga didukung oleh Rusia, meski Pemilu tersebut tidak pernah dilaksanakan.
(bbn)
No more pages































