Logo Bloomberg Technoz

Tren pelemahan dolar AS masih berlanjut pasca kenaikan harga komoditas emas dan perak yang sempat jatuh dua hari lalu. Kini, emas kembali naik 7,1% ke atas US$4.990 per ons, dan perak naik lebih dari 12% dibanderol US$89 per ons. Harga kedua logam mulia ini melonjak sejak bulan lalu, lantaran momentum spekulatif, gejolak geopolitik, serta kekhawatiran atas independensi bank sentral AS. 

Dari pasar domestik, beberapa sentimen yang meski terlihat sudah mereda, namun agaknya masih menyisakan sedikit riak kekhawatiran investor, walaupun tidak terlalu tampak di permukaan. Melansir data Bloomberg, secara harian ada arus keluar modal asing sebesar US$49,8 juta per kemarin (3/2/2026).

Arus keluar modal asing masih terjadi seiring risiko penurunan status Indonesia dalam indeks MSCI dari emerging market ke frontier market, serta kondisi fiskal. 

Sementara dari pasar surat utang justru arus dana masuk tercatat sebesar US$39,9 juta pada Senin (2/2/2026). Agaknya pasar surat utang mengapresiasi data-data ekonomi yang dirilis pada Senin lalu dan mencatatkan surplus neraca perdagangan pada Desember 2025 sebesar US$2,52 miliar, sejalan dengan konsensus ekonom US$2,53 miliar. Kinerja yang ditopang oleh percepatan ekspor menjelang penerapan aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE) ini terlihat dari adanya lonjakan pertumbuhan ekspor menjadi 11,64% yoy.  

Secara kumulatif, Indonesia membukukan surplus perdagangan sebesar US$7,57 miliar pada kuartal IV-2025 dan US$41,05 miliar sepanjang 2025. Lebih tinggi dibandingkan 2024 yang sebesar US$31,04 miliar

“Kondisi ini sempat menopang stabilitas nilai tukar rupiah di kisaran Rp16.655 per dolar AS pada kuartal IV-2025. Namun demikian, perbaikan fundamental eksternal tersebut belum cukup untuk menahan tren depresiasi rupiah ke depan,” kata Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist dan Muhammad Haikal, Junior Macroeconomist dari Mega Capital Sekuritas.

(riset/aji)

No more pages