Perkiraan CEC menunjukkan total kapasitas batu bara akan mencapai sekitar 1.333 gigawatt pada akhir 2026, sementara kapasitas tenaga surya mencapai 1.200 gigawatt pada akhir 2025 dan telah mencatat pertumbuhan rata-rata 270 gigawatt per tahun selama tiga tahun terakhir, menurut data Administrasi Energi Nasional.
Kapasitas pembangkit baru dari seluruh sumber energi diproyeksikan melampaui 400 gigawatt pada 2026, secara umum sejalan dengan meningkatnya permintaan listrik, kata CEC.
Pembangunan tersebut membantu China menghindari pemadaman listrik berskala luas seperti yang terjadi pada 2021 dan 2022—masalah yang hingga baru-baru ini masih memengaruhi sebagian wilayah AS dan Eropa.
Sebagian besar kapasitas baru China diperkirakan berasal dari energi terbarukan, yang dipimpin oleh angin dan surya, yang secara bersama-sama akan menyumbang sekitar 300 gigawatt dari total penambahan.
Meski masih sangat besar dalam skala global, angka ini mencerminkan perlambatan tajam dibandingkan tahun lalu, ketika tenaga surya saja menyumbang 315 gigawatt dari kapasitas baru.
Beijing tahun lalu mengadopsi kebijakan baru yang mendorong energi terbarukan menuju penetapan harga berbasis pasar, sebuah langkah yang diperkirakan akan memangkas pendapatan dari proyek-proyek baru.
Pemerintah juga mempercepat reformasi pasar listrik, memperketat persaingan antar-sumber energi dan menekan harga listrik lebih rendah. Investasi pada jaringan listrik juga ditingkatkan ke rekor tertinggi tahun lalu untuk mengatasi hambatan transmisi.
(bbn)
































