Logo Bloomberg Technoz

Jam Kerja Panjang, Pekerja Sudah Siap Hadapi Risiko Kesehatan?


(Dok. IFG Life)
(Dok. IFG Life)

Bloomberg Technoz, JakartaBagi pekerja usia produktif, fase kehidupan saat ini umumnya identik dengan satu fokus utama: membangun karier dan meningkatkan penghasilan. Jam kerja panjang, target yang terus naik, serta tuntutan profesional menjadi bagian dari keseharian. Namun, di balik laju karier dan pertumbuhan pendapatan, muncul pertanyaan mendasar yang kerap terabaikan: Apakah risiko yang membayangi sudah dikelola dengan matang?

Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan realitas dunia kerja Indonesia yang makin intens. Dari total 146,54 juta penduduk bekerja, sekitar 25,47% di antaranya memiliki jam kerja lebih dari 49 jam per minggu. Artinya, satu dari empat pekerja di Indonesia berada dalam kategori jam kerja berlebih.

Mayoritas pekerja (40,43%) memiliki waktu kerja pada rentang 35 hingga 48 jam per minggu. Angka tersebut setara 7 hingga hampir 10 jam per hari dalam skema lima hari kerja. Sementara itu, 32,68% pekerja lainnya tercatat bekerja dengan jam yang relatif lebih pendek, yakni 1–34 jam per minggu. Angka-angka ini mencerminkan satu hal: waktu dan energi masyarakat produktif makin terserap oleh aktivitas kerja.

Produktif, Tetapi Rentan Risiko


Panjangnya jam kerja kerap berbanding lurus dengan meningkatnya tanggung jawab profesional dan personal. Perkembangan karier diiringi dengan kebutuhan hidup yang ikut bertambah, mulai dari cicilan rumah, biaya pendidikan anak, hingga perencanaan masa depan. 

Pada saat yang sama, risiko finansial turut membesar. Risiko kesehatan, kecelakaan, hingga kondisi tak terduga bisa datang tanpa peringatan. Ironisnya, kelompok usia produktif terkadang menempatkan proteksi asuransi sebagai kebutuhan sekunder. Fokus utama masih tertuju pada pertumbuhan aset dan peningkatan pendapatan. Perlindungan seringkali dianggap bisa menyusul nanti.