Logo Bloomberg Technoz

Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan nilai perdagangan menyentuh Rp31,92 triliun dari sejumlah 45,39 miliar saham yang ditransaksikan, dengan dominasi aksi jual yang masif. Dengan frekuensi 2,95 juta kali.

Sejumlah saham menjadi pemberat (laggard) IHSG hingga memicu Trading Halt. Berikut 10 saham laggard berdasarkan data Bloomberg.

  1. Dian Swastatika Sentosa (DSSA) menekan 61,79 poin
  2. Barito Renewables Energy (BREN) menekan 52,92 poin
  3. Telkom Indonesia (TLKM) menekan 51,72 poin
  4. Bank Central Asia (BBCA) menekan 42,78 poin
  5. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menekan 31,54 poin
  6. Amman Mineral Internasional (AMMN) menekan 29,68 poin
  7. Bumi Resources Minerals (BRMS) menekan 28,47 poin
  8. Barito Pacific (BRPT) menekan 23,02 poin
  9. Bank Mandiri (BMRI) menekan 21,03 poin
  10. Mora Telematika Indonesia (MORA) menekan 19,45 poin

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG mencatat penurunan terdalam nomor satu di Asia dan juga ASEAN.

Koreksi tajam IHSG terjadi di tengah sentimen Morgan Stanley Capital International atau MSCI, penyedia indeks global yang sangat berpengaruh bagi aliran dana asing di pasar modal Indonesia, memberlakukan pembekuan kebijakan indeks untuk saham-saham Indonesia secara efektif segera.

Melansir sejumlah riset yang diterima, MSCI menyimpulkan transparansi kepemilikan saham di Indonesia belum memadai untuk penilaian free float yang akurat. 

Data kepemilikan dari KSEI dianggap belum cukup dapat diandalkan dan peningkatan data dari IDX belum mengatasi masalah fundamental terkait investability dan pembentukan harga yang wajar.

Karena itu, MSCI menerapkan perlakuan sementara yang berlaku segera:

  1. Pembekuan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan jumlah saham (NOS).
  2. Tidak ada penambahan saham Indonesia ke MSCI Investable Market Indexes (IMI).
  3. Tidak ada migrasi naik antar segmen indeks, termasuk dari Small Cap ke Standard.

MSCI memberikan tenggat hingga Mei 2026 untuk peningkatan transparansi. 

Jika tidak tercapai, maka Indonesia berisiko mengalami penurunan bobot di MSCI Emerging Markets atau bahkan diturunkan statusnya menjadi Frontier Market.

Artinya, dampak untuk pasar saham Indonesia adalah potensi outflow yang cukup besar, karena saham Indonesia tidak akan mengalami upgrade bobot maupun penambahan dalam indeks.

Korea Investment and Sekuritas Indonesia menjelaskan, MSCI secara resmi mengumumkan "Interim Freeze" efektif segera. Tidak akan ada penambahan saham baru (Additions) atau promosi (Small to Standard) untuk emiten Indonesia pada tinjauan Februari 2026.

“Dampak Langsung ke Kandidat: Seluruh tesis investasi berbasis inklusi MSCI untuk Februari ini GUGUR,” tegas KISI Research dalam riset yang diterima Bloomberg Technoz, Rabu (28/1/2026).

MSCI menyebut, investor global tidak percaya pada data kepemilikan saham (KSEI dan/atau IDX). Isunya: Struktur kepemilikan yang buram (opacity) dan dugaan manipulasi harga terkoordinasi (coordinated trading behavior).

Secara sederhana, jelas KISI Research, market kita dianggap terlalu banyak "gorengan" dan data free float–nya tidak mencerminkan realita.

Ini bagian paling berbahaya. Jika sampai Mei 2026 tidak ada perbaikan transparansi yang signifikan, MSCI mengancam Mengurangi bobot (weighting) seluruh saham Indonesia, dan Menurunkan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market.

“Jika terjadi, hanya jika terjadi, maka potensi dana asing yang keluar dapat mencapai minimal US$10bn (dengan asumsi frontier market tidak termasuk ke dalam mandat investasi),” papar KISI.

Strateginya, hati–hati pada saham–saham yang naik karena spekulasi masuk MSCI. Mencermati kedepannya, KISI Research menyebut sentimen negatif untuk IHSG dalam beberapa waktu. 

“Asing akan melihat ini sebagai governance risk.”

(fad)

No more pages