Terlebih lagi, instrumen dana yang diperjualbelikan ETF Bitcoin Spot mengalami arus keluar lima hari berturut–turut dengan total outflow mencapai US$1,7 miliar di AS hampir menghapus inflow deras empat hari sebelumnya, menurut data yang dihimpun Bloomberg.
Mengutip data CoinMarketcap, Selasa (27/1/2026), top market caps aset kripto lajunya cenderung mendatar. Adapun penguatan tertinggi terjadi pada TRON TRX dengan kenaikan mencapai 4% sepanjang 2026 pada harga US$0,2954.
Sementara itu, yang paling dalam penurunannya terjadi pada Ethereum ETH dengan mencatatkan kejatuhan harga mencapai 1,1% year–to–date, menuju harga US$2.927,1.
Bitcoin tercatat melandai dengan pergerakan yang amat terbatas di harga US$88.000–an (Rp1,48 miliar), sepanjang 2026 hanya menguat terbatas 0,81%, yang tergambar stagnan lajunya.
Level harga tersebut sekaligus menetapkan level resistance terdekat Bitcoin di US$90.000 sampai dengan US$96.000 dan juga US$100.000 yang paling potensial.
Jika mencermati pergerakan harganya secara teknikal, Bitcoin masih ada potensi untuk melanjutkan tren mendatarnya dalam tren jangka pendeknya. Level yang menarik adalah US$87.000 sebagai support, dalam time frame 5 menit. Support yang menahan selanjutnya di US$86.000.
Adapun XRP juga dalam tren yang sama, dengan terapresiasi 3,21% year–to–date, pada harga US$1,89. Selanjutnya, BNB Koin menyusul dengan penguatan 2,33% dengan harga US$883,47.
Di sisi lain, Chainlink LINK justru masih terpeleset di zona merah dengan pelemahan 1,78% pada perdagangan sepanjang 2026, pada harga US$11,97. Senada, Solana SOL juga tengah dalam tren pelemahan 0,1% menjadi US$124,28.
Sementara itu, Uniswap UNI, Litecoin LTC, dan Avalanche AVAX kompak ada di zona merah bagi ketiganya sepanjang perdagangan tahun berjalan 2026. Dengan masing–masing melemah 16,58%, 9,98%, dan 4,41%.
Analis Ajaib Kripto Panji Yudha menyebut, perhatian pasar saat ini tertuju pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Federal Reserve pada 28 Januari, di mana CME FedWatch memprediksi probabilitas sebesar 97,2% The Fed akan menahan suku bunga acuan.
“Situasi semakin kompleks dengan adanya risiko government shutdown AS pada 31 Januari yang memiliki peluang 78% menurut data Polymarket,” papar Ajaib Kripto dalam riset terbarunya, mengutip Selasa.
Kombinasi antara ketegangan politik di Washington dan tekanan pada kebijakan moneter The Fed menjadi faktor krusial yang diantisipasi akan menjadi motor volatilitas besar bagi harga Bitcoin dalam beberapa hari ke depan.
Bitcoin bergerak menyamping (sideways) di rentang harga US$87.00088.000. Bitcoin pun, lanjut Ajaib Kripto, tertinggal jauh dengan penurunan mencapai 17% secara year–over–year dan jatuh dalam 30% dari puncaknya pada Oktober di US$126.000.
Data CryptoQuant menunjukkan, pemegang Bitcoin jangka panjang mulai menjual aset mereka dalam kondisi rugi untuk pertama kalinya sejak Oktober 2023. Pola ini biasanya mengindikasikan fase konsolidasi yang berkepanjangan.
Mengutip riset yang terpisah, likuiditas saat ini lebih memilih mengalir ke emas akibat meningkatnya risiko geopolitik dan ketidakpastian fiskal AS ketimbang ke pasar Aset Kripto.
“Harga emas resmi melampaui level psikologis US$5.000/troy ons. Lonjakan ini didorong oleh aksi borong bank sentral, ketegangan geopolitik, dan pelemahan dolar AS. Dalam setahun, emas telah menguat 83%,” jelas riset tersebut.
(fad)































