Bahaya utama Nipah, menurut Dicky, justru terletak pada sifatnya yang sering muncul secara senyap. Gejala awal infeksi kerap tidak spesifik dan menyerupai penyakit umum seperti flu, tifoid, atau demam berdarah, sehingga banyak kasus tidak terdeteksi sejak dini.
Kondisi tersebut diperparah oleh lemahnya sistem surveilans, khususnya terhadap kasus ensefalitis atau radang otak akibat virus baru. Akibatnya, diagnosis Nipah sering kali baru ditegakkan setelah pasien meninggal dunia, sehingga peluang pengendalian penularan menjadi sangat terbatas.
Meski penularan antar-manusia tidak seefisien virus pernapasan seperti COVID-19, Nipah tetap berbahaya pada kontak erat melalui cairan tubuh. Rumah sakit, menurut Dicky, kerap menjadi lokasi penguat wabah akibat penularan nosokomial, sebagaimana terjadi pada sejumlah klaster Nipah di India dan Bangladesh yang berawal dari pasien yang tidak terdeteksi.
Tingkat kematian kasus Nipah tergolong tinggi, berkisar 40 hingga 75%. Tingginya fatalitas ini bukan hanya disebabkan oleh keganasan virus, tetapi juga karena belum tersedianya antivirus maupun vaksin. Penyakit ini menyerang otak dan dapat meninggalkan gangguan saraf jangka panjang pada penyintas.
Ke depan, Dicky mengingatkan bahwa ancaman terbesar bukan hanya virus Nipah itu sendiri, melainkan potensi munculnya “penyakit mirip Nipah” yang memiliki kematian cukup tinggi, penularan antarmanusia yang lebih efisien, serta gejala awal yang sulit dikenali.
“Skenario ini bisa melumpuhkan sistem kesehatan meski tidak se-heboh pandemi COVID-19,” pungkasnya.
Gejala Infeksi Virus Nipah
Dilansir dalam website Kementerian Kesehatan, setelah terinfeksi, virus Nipah memiliki masa inkubasi sekitar 4-14 hari sebelum gejala muncul. Gejala infeksi ini dapat bervariasi dari ringan hingga berat, bahkan mengancam jiwa. Beberapa gejala yang mungkin terjadi termasuk:
- Demam
- Sakit kepala
- Batuk
- Sakit tenggorokan
- Nyeri otot
- Sesak napas
- Muntah
- Kesulitan menelan
- Peradangan otak (ensefalitis)
(dec/spt)



























