Kemarin, harga emas dunia finis di posisi US$ 5.011,2/troy ons. Naik 0,47% dan menjadi rekor penutupan (closing) tertinggi sepanjang sejarah.
Dinamika di Amerika Serikat (AS) masih menjadi sorotan pelaku pasar. Presiden Donald Trump kembali menebar ancaman tarif ke berbagai negara.
Pertama adalah Korea Selatan. Trump mengancam bakal menaikkan tarif bea masuk terhadap produk asal Negeri Ginseng menjadi 25% karena dinilai tidak menepati apa yang sudah disepakati dalam perjanjian dagang.
“Aturan Korea Selatan tidak mencerminkan kesepakatan dengan AS. Dalam kesepakatan tersebut, kami telah menurunkan tarif. Tentu saja kami berekspektasi mitra dagang kami melakukan hal yang sama,” tulis Trump dalam cuitan di media sosial.
Kedua adalah dengan Kanada. Terhadap Negeri Daun Maple, Trump mengancam bakal mengganjar tarif 100%. Ini bakal berlaku andai Kanada membuat kesepakatan dagang dengan China.
Selain dari AS, perkembangan di Jepang juga menjadi pengungkit harga emas. Pasar obligasi pemerintah di Negeri Matahari Terbit mengalami aksi jual massal (sell off).
Ini diakibatkan oleh keraguan investor terhadap kekuatan anggaran negara di Jepang, di mana Perdana Menteri Sanae Takaichi menjanjikan pemotongan tarif pajak. Investor memandang anggaran yang ekspansif dan agresif ini belum jelas akan dibiayai dari mana, sehingga satu-satunya cara adalah dengan berutang di pasar obligasi.
Namun sepertinya investor tidak ‘merestui’ langkah tersebut. Ini menjadi sinyal bahwa pasar tidak sepakat dengan ide belanja fiskal yang berlebihan.
Emas adalah aset yang dipandang aman (safe haven asset). Saat situasi sedang penuh turbulensi, biasanya emas menjadi pilihan pelaku pasar untuk mengamankan portofolio mereka.
(aji)




























