BRI Danareksa menilai kenaikan imbal hasil Surat Berharga Rupiah Bank Indonesia atau SRBI belakangan ini bukan sinyal pengetatan moneter, melainkan bagian dari kalibrasi likuiditas. Peningkatan imbal hasil SRBI lebih mencerminkan upaya penyesuaian suku bunga jangka pendek agar selaras dengan kondisi risiko pasar.
"Kenaikan yield SRBI terbaru lebih mencerminkan sinyal dan penyesuaian posisi pasar, bukan pergeseran menuju kebijakan moneter yang lebih ketat," tulis laporan tersebut.
Dari sisi fundamental domestik, kondisi perbankan menunjukkan perbaikan. Pertumbuhan kredit per Desember 2025 tercatat mencapai 9,69 persen secara tahunan, meningkat dari 7,74 persen pada bulan sebelumnya. Hal ini menunjukkan transmisi kebijakan moneter masih berjalan efektif dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
"Penyesuaian besaran lelang SRBI bertujuan menyeimbangkan penyerapan likuiditas dengan dukungan terhadap pertumbuhan kredit, mencerminkan fine tuning kebijakan, bukan pengetatan," jelas laporan BRI Danareksa.
Bank Indonesia juga dinilai tetap memprioritaskan stabilitas tanpa mengorbankan pertumbuhan. Target pertumbuhan kredit 2026 dipatok di kisaran 8–12 persen, dengan dukungan bauran kebijakan yang mencakup intervensi nilai tukar di pasar spot, DNDF, hingga pembelian SBN di pasar sekunder.
"Kenakan suku bunga hanya akan dipertimbangkan jika terjadi tekanan nilai tukar yang persisten dan tidak teratur atau guncangan inflasi yang signifikan, dan saat ini kondisi tersebut belum terlihat," tulis laporan tersebut.
Dengan cadangan devisa yang tetap tinggi di level USD 156,5 miliar dan tekanan dolar AS yang mulai mereda, menurut BRI Danareksa, ruang stabilisasi ekonomi Indonesia masih terjaga. Kondisi ini memperkuat pandangan bahwa ekonomi Indonesia memasuki 2026 dengan fondasi yang relatif solid di tengah dinamika global.
(red)





























