Logo Bloomberg Technoz

Aset-aset itu serupa dengan kapal militer yang dikerahkan AS ke Laut Karibia beberapa minggu sebelum AS melancarkan operasi militer pada 3 Januari untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Mengingat serangan AS terhadap Iran tahun lalu serta operasi di Venezuela, retorika Trump yang bernada agresif meningkatkan tekanan terhadap Iran dan membuat pasar waspada terhadap kemungkinan gelombang serangan baru.

Meski demikian, Trump menarik kembali janji sebelumnya untuk menyerang Iran setelah mengatakan ia menerima jaminan bahwa pemerintah Iran tidak akan melanjutkan rencana eksekusi terhadap ratusan pengunjuk rasa. Teheran telah memperingatkan AS dan Israel — yang melakukan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran tahun lalu — agar tidak mencoba campur tangan untuk membantu aksi protes.

Aksi protes berskala besar tersebut, yang merupakan ancaman terbesar bagi rezim berkuasa Iran dalam beberapa dekade, pertama kali dipicu di Teheran oleh anjloknya nilai mata uang nasional, lalu menyebar ke seluruh negeri dengan tuntutan diakhirinya kepemimpinan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Para ahli mengatakan penumpukan perangkat militer AS di kawasan ini menambah fleksibilitas bagi Trump. Namun, mobilisasi aset di Timur Tengah tidak serta-merta menjamin akan terjadi serangan terhadap Iran.

“Penumpukan ini menandakan tekad presiden untuk mempertahankan semua opsi, termasuk serangan militer terhadap rezim Iran,” kata Mona Yacoubian, direktur dan penasihat senior Program Timur Tengah di Center for Strategic and International Studies. “Ini bisa menjadi pendahuluan menuju serangan, atau bisa juga dimaksudkan sebagai taktik koersif yang berfokus pada upaya memperoleh konsesi dari Teheran menjelang atau sebagai bagian dari negosiasi.”

Konsultan risiko Eurasia Group menaksir kemungkinan serangan AS dan Israel terhadap Iran sebelum 30 April sebesar 65%, dengan alasan bahwa “upaya diplomasi kemungkinan besar akan gagal.” Sementara itu, firma risiko geopolitik Rapidan Energy Group mempertahankan peluang 70% bahwa AS akan menyerang Iran dalam beberapa hari dan minggu mendatang.

Namun, aksi militer terhadap Iran mengandung risiko yang sangat besar, dan masih belum jelas apakah AS semata-mata ingin menggunakan ancaman kekuatan untuk mencegah jatuhnya lebih banyak korban demonstran, atau justru memakai serangan udara untuk memicu perubahan rezim.

Jika tujuannya membantu para pengunjuk rasa, AS dapat meningkatkan akses mereka ke terminal internet Starlink. Tetapi jika sasarannya adalah mencegah rezim membunuh demonstran, AS bisa mengganggu kemampuan komando dan kendali Iran, atau melancarkan serangan terhadap Khamenei dan lingkaran dalamnya, serta lokasi-lokasi kunci pemerintah.

Pada saat yang sama, rezim Iran tampaknya telah berhasil meredam aksi protes nasional melalui represi brutal, sementara kelompok tempur kapal induk yang kemungkinan terlibat dalam respons militer AS masih membutuhkan waktu beberapa hari lagi untuk tiba di kawasan.

“Sulit membayangkan penggunaan kekuatan ketika tidak ada lagi pemberontakan yang sedang berlangsung,” kata Mara Karlin, mantan pejabat senior Departemen Pertahanan, seraya menambahkan bahwa militer AS dapat menggunakan opsi kinetik maupun non-kinetik.

Trump mengklaim bahwa Iran menghentikan eksekusi terhadap lawan-lawan politik pemerintah atas tuntutannya. Seorang pelapor khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan jumlah total korban tewas dalam aksi protes bisa melebihi 20.000 orang. Pemerintah Iran mengklaim jumlah korban tewas sedikit di atas 3.000.

Alih-alih menandakan pelunakan sikap, komentar Trump sebelumnya kemungkinan dirancang untuk membeli waktu bagi militer AS guna memosisikan aset-aset yang dibutuhkan untuk potensi serangan, sekaligus melindungi kepentingan AS dan sekutunya di kawasan dari kemungkinan pembalasan, menurut Becca Wasser, penanggung jawab isu pertahanan di Bloomberg Economics.

Instalasi militer terbesar AS di Timur Tengah, Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, menjadi sasaran rentetan rudal Iran setelah serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir Teheran. Namun pembalasan bisa jauh lebih keras jika rezim di Teheran meyakini dirinya menghadapi ancaman eksistensial.

“Jika AS melancarkan serangan, mereka memiliki lebih banyak opsi,” kata Wasser. “Sebelumnya, mereka terbatas pada serangan simbolis atau kampanye serangan terbatas yang bergantung pada kekuatan di luar kawasan. Kini, ada kemampuan tambahan untuk menjalankan pertempuran.”

Seorang pejabat senior Iran mengatakan setiap serangan militer Amerika akan dipandang sebagai ancaman serius, dan negara itu akan memberikan respons tanpa batas.

Lembaga nirlaba Soufan Center mengatakan dalam catatan pengarahan pada Jumat bahwa pergerakan berkelanjutan aset militer AS ke kawasan menandakan serangan masih mungkin terjadi, meskipun Teheran menyatakan yakin bahwa aksi protes telah berakhir.

“Di balik ancaman Trump terdapat penilaian bahwa rezim telah cukup dilemahkan oleh kekalahan sekutu-sekutu regionalnya, kemerosotan ekonomi, serta serangan AS dan Israel terhadap fasilitas strategisnya pada Juni,” tulis catatan tersebut, seraya menambahkan bahwa “penerapan kekuatan AS dalam skala terbatas terhadap target-target rezim bisa mendorong rezim keluar dari kekuasaan.”

(bbn)

No more pages