Penyebab Cuaca Ekstrem yang Mengintai RI Sepekan ke Depan
Dinda Decembria
23 January 2026 14:30

Bloomberg Technoz, Jakarta -Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi cuaca ekstrem masih mengintai sejumlah wilayah Indonesia dalam sepekan ke depan. Peringatan ini menyusul meningkatnya intensitas hujan lebat hingga ekstrem yang terjadi di berbagai daerah, terutama di wilayah selatan Indonesia.
BMKG mencatat, dalam beberapa hari terakhir hujan dengan kategori lebat hingga ekstrem terjadi di sejumlah wilayah seperti Sumatera Selatan, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga Sulawesi Selatan. Curah hujan ekstrem tercatat di DKI Jakarta mencapai 213,4 mm per hari, disusul Sulawesi Selatan 101,2 mm per hari dan Jawa Barat 86,7 mm per hari.
"Kondisi tersebut dipicu oleh kombinasi sejumlah faktor atmosfer, terutama pada skala regional, yakni keberadaan sirkulasi siklonik serta penguatan monsun dingin Asia. Sirkulasi siklonik sebelumnya terpantau di selatan NTB dan berkembang menjadi Bibit Siklon Tropis 96S yang memperkuat daerah konvergensi di wilayah selatan Indonesia,"ungkap BMKG dalam keterangan tertullis, Jumat (23/1).Meski Bibit Siklon Tropis 96S telah punah, dinamika atmosfer menunjukkan kembali terbentuknya Bibit Siklon Tropis 97S di wilayah Laut Timor. Sistem ini kembali memperkuat pola konvergensi dan meningkatkan potensi hujan lebat hingga sangat lebat, khususnya di wilayah NTB dan NTT.
Selain itu, aktifnya Monsun Asia turut membawa pasokan massa udara lembap dari Laut Cina Selatan yang bergerak melalui Selat Karimata hingga Pulau Jawa. Aliran udara lembap tersebut diperkuat oleh angin baratan di wilayah selatan Indonesia dan berkontribusi signifikan terhadap pembentukan awan hujan lebat.
BMKG juga mencermati dinamika atmosfer global yang masih berpengaruh dalam sepekan ke depan. Fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO) terpantau berada pada fase negatif atau La Niña lemah, dengan nilai Southern Oscillation Index (SOI) yang cenderung positif, sehingga mendukung peningkatan pasokan uap air di wilayah Indonesia.






























