Dari sisi global, lanjut dia, pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh kondisi geopolitik global, serta kebijakan tarif perdagangan internasional AS.
"Selain itu, tingginya imbal hasil obligasi AS atau yield US Treasury tenor 2 tahun dan 3 tahun, juga lebih rendahnya Fed Fund Rate (FFR) turun lebih kecil," kata dia.
Menurut dia, situasi tersebut menyebabkan dolar AS menguat dan terjadi aliran modal keluar dari negara berkembang seperti Indonesia, ke negara maju, terutama AS.
"Pada 2026 terjadi net outflow (aliran modal asing keluar bersih) US$1,6 miliar, data hingga 19 januari 2026. itu faktor-faktor global," ungkap Perry.
Saat ini, Perry menegaskan bahwa bank sentral tidak segan-segan untuk melakukan intervensi menggunakan cadangan devisa dalam jumlah besar demi menjaga stabilitas rupiah. BI menempuh intensitas langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF), baik di off-shore maupun on-shore atau Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan pasar spot.
"Kami akan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah untuk terus menguat, didukung fundamental yang baik dan imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah dan prospek ekonomi yang menarik," tegas dia.
"langkah-langkah ini didukung kecukupan cadangan devisa. Cadev lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi rupiah. Cadev kami kumpulkan saat masuk dan tidak segan untuk melakukan stabilisasi rupiah. Kami yakin rupiah akan menguat."
(lav)




























