Logo Bloomberg Technoz

Greenland, yang berpenduduk 57.000 jiwa, merupakan bagian dari Kerajaan Denmark namun memiliki pemerintahan otonom yang mengurusi sebagian besar aspek domestik, kecuali urusan pertahanan dan kebijakan luar negeri. Guna memperkuat pertahanan Arktik, Denmark dalam beberapa hari terakhir telah mengerahkan lebih banyak pasukan ke wilayah tersebut.

Greenland sedang berada di bawah "tekanan besar" dan "kita harus siap menghadapi segala skenario,” kata Mute B. Egede, Menteri Keuangan Greenland sekaligus mantan pemimpin wilayah tersebut, dalam konferensi pers yang sama.

Tidak hanya Greenland, militer Kanada dilaporkan juga mulai melakukan pemodelan respons terhadap kemungkinan invasi Amerika. Hal ini dilakukan setelah Trump secara terbuka menyebut Kanada sebagai potensi "negara bagian ke-51" AS. Laporan dari Globe and Mail menekankan bahwa otoritas Kanada tetap menganggap invasi tersebut sangat tidak mungkin terjadi.

Untuk memperkuat keamanan wilayah, Denmark bersama tujuh negara NATO lainnya pekan lalu telah mengerahkan personel militer sebagai bagian dari Operation Arctic Endurance. Komando Gabungan Arktik Denmark juga berencana memperluas latihan militer tersebut hingga kemungkinan berlangsung sepanjang tahun.

Trump telah mengancam akan memberlakukan tarif baru mulai 1 Februari terhadap delapan sekutu NATO yang mengirimkan personel militer ke Greenland. Langkah ini memicu kemarahan di Eropa. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen memperingatkan adanya "konsekuensi besar" bagi kedua belah pihak jika tarif tersebut benar-benar diterapkan.

“Jika perang dagang dilancarkan terhadap kami—sesuatu yang sama sekali tidak saya sarankan—maka kami tentu harus membalas. Kami terpaksa melakukannya,” tegas Frederiksen dalam sesi tanya jawab di parlemen Denmark. “Saya berharap kita tidak sampai ke titik itu. Saya berharap kita berhasil meyakinkan pihak Amerika bahwa ini bukanlah jalan yang seharusnya diambil.”

(bbn)

No more pages