"Jadi untuk yang spekulator-spekulator, jangan terlalu ambil posisi yang terlalu long. Long itu beli di depan ya. Kira-kira pondasi ekonomi kita enggak akan terganggu dan akan terus membaik," tutur dia.
"Saya punya [alasan mengapa Rupiah mismatch dengan IHSG], tapi saya enggak boleh ngomong. Anda tanya ke Bank Sentral aja apa yang terjadi. Tapi pada intinya ekonomi fundamental baik, Rupiah harusnya menjadi menguat. Pelan-pelan akan menguat. Enggak ada alasan Rupiah melemah ketika modal masuk ke sini."
Belakangan, Purbaya juga membeberkan sejumlah strategi dalam upaya membuat fondasi ekonomi Indonesia semakin kuat agar mampu bertahan dengan berbagai guncangan faktor eksternal.
"Pertama, kita pastikan likuiditas sistem finansial cukup. BI [Bank Indonesia] dan kita di Kemenkeu juga sudah setuju untuk menjaga itu bersama," ujarnya kepada wartawan di Gedung Parlemen, Jakarta, Senin (19/1/2026) kemarin.
Strategi lainnya adalah memastikan berbagai program dan belanja pemerintah dilakukan dengan cepat dan efisiensi pada awal tahun ini.
Ketiga, lanjut Purbaya, jika likuiditas di sistem keuangan sudah berjalan optimal, maka tidak menutup kemungkinan juga pergerakan ekonomi di sektor riil akan semakin meningkat.
"Habis itu, kami akan perbaiki iklim investasi dengan debottleckning. Jadi kita akan perbaiki semuanya. Kita akan perbaiki supply, demand, ekonomi investasi Kebijakan moneter, kebijakan fisikal, sektor riil. Semuanya," tutur dia. "Jadi untuk ekonomi 6% tahun ini nggak terlalu sulit."
(lav)


























