Berikut pergerakan harga saham bank potensial berdasarkan data Bloomberg, Selasa (20/1/2026).
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melemah 1,54% ke level Rp8.000
- PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) melemah 1,33% ke level Rp2.230
- PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) melemah 1,08% ke level Rp4.570
- PT Bank Artha Graha Internasional Tbk (INPC) ambles 5,98% ke level Rp220
- PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK) ambles 3,62% ke level Rp930
- PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) ambles 3,37% ke level Rp488
- PT Bank Ganesha Tbk (BGTG) ambles 2,78% ke level Rp140
- PT China Construction Bank Indonesia Tbk (MCOR) ambles 2,51% ke level Rp78
- PT Bank Multiarta Sentosa Tbk (MASB) ambles 2,37% ke level Rp3.300
- PT KB Bank Tbk (BBKP) melemah 2,17% ke level Rp90
- PT Bank Oke Indonesia Tbk (DNAR) melemah 2,09% ke level Rp187
- PT Bank Victoria International Tbk (BVIC) melemah 2,06% ke level Rp142
- PT Bank Capital Indonesia Tbk (BACA) melemah 1,89% ke level Rp208
- PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) melemah 1,61% ke level Rp244
- PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) melemah 1,54% ke level Rp2.550
Pelemahan rupiah juga tersengat kebijakan ekonomi dalam negeri Indonesia yang tidak sepenuhnya lapang. Ada kecemasan terhadap defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja (APBN) 2026 dan membuat dana asing keluar dari pasar.
“Investor domestik maupun asing khawatir terhadap independensi Bank Sentral dalam mengelola stabilitas makroekonomi di tengah tekanan untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8%,” mengutip riset Lionel Priyadi, Fixed Income and Macro Strategist, Mega Capital Sekuritas dalam catatannya.
BI Rate Berpotensi Ditahan 4,75%
Mulai hari ini, Bank Indonesia (BI) menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) edisi perdana 2026. Hasilnya akan diumumkan esok hari, termasuk bunga acuan BI Rate.
Hingga Selasa (20/1/2026) siang hari, konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg dengan melibatkan 32 analis/ekonom menghasilkan median proyeksi BI Rate tetap 4,75%. Artinya, suku bunga acuan sepertinya tidak ke mana–mana alias hold.
Sepenuhnya aklamasi, pasar sudah satu suara. Sebab, 32 ekonom/analis yang keseluruhannya mengestimasikan BI Rate bertahan 4,75%.
Rupiah sepertinya masih akan menjadi pertimbangan utama bagi Bank Indonesia dalam keputusan BI Rate pertemuan Januari. Menjalani 2026, tekanan terhadap mata uang rupiah bukannya reda tetapi makin intensif.
Di hadapan dolar AS, rupiah menyentuh titik terendah sepanjang sejarah. Rupiah sudah sangat dekat dengan level Rp17.000/US$.
“BI sepertinya akan mempertahankan suku bunga acuan di 4,75% untuk menjaga selisih suku bunga demi menjaga rupiah. Mata uang Indonesia melemah mencapai 1% tahun ini, menjadi salah satu yang terlemah di antara mata uang regional,” sebut Tamara Mast Henderson, Ekonom Bloomberg Economics, dalam catatannya.
Posisi (stance) BI tersebut, lanjut Henderson, sudah ditempuh sejak kuartal IV-2025. Awal tahun ini, sepertinya stance BI belum akan berubah. Masih mengedepankan stabilitas.
“Ini juga dilakukan untuk menenangkan pasar, yang mencemaskan isu independensi BI,” tambah Henderson.
(fad/aji)



























