Belakangan, rupiah tercatat memang terus menunjukkan pelemahan. Pada penutupan pasar spot, Senin (19/1/2026), rupiah menyentuh Rp16.942/US$. Ini menjadi posisi terlemah sepanjang sejarah. Di pasar offshore, rupiah sudah menyetuh Rp17.006/US$ pada pukul 15:29 WIB.
Defisit fiskal yang melebar menjadi 2,92% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2025 menurunkan daya tarik aset keuangan domestik dan meningkatkan premi risiko Indonesia di mata investor asing.
Tekanan tersebut tecermin di pasar obligasi, di mana imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tercatat meningkat, mengindikasikan aksi jual yang mulai terjadi seiring pasar merespons naiknya risiko fiskal domestik.
Pada bagian lain, kepercayaan pasar juga diproyeksi terpengaruh akibat muncul kabar bahwa Presiden Prabowo Subianto dalam waktu dekat akan menunjuk Thomas Djiwandono sebagai salah satu kandidat Dewan Gubernur Bank Indonesia. Saat ini Thomas menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan.
Kabar tersebut juga turut menjadi salah satu penyebab menahan laju rupiah dan membuat spekulasi negatif investor terhadap kemungkinan andil politik dalam kebijakan moneter ke depan.
(ibn/wep)



























