Di tengah medan yang berat, kondisi tanah yang masih labil, serta akses menuju lokasi yang belum sepenuhnya pulih, TNI dan instansi terkait tetap bekerja dengan sistem shift 24 jam demi mempercepat pembukaan jalur transportasi warga.
Perbaikan jembatan juga dilakukan secara berkelanjutan karena sejumlah titik tidak dapat dikerjakan paralel. Alhasil, penyelesaian satu jembatan menjadi kunci untuk membuka akses ke titik berikutnya.
Letkol Rudy menegaskan, kemampuan pembangunan jembatan darurat merupakan bagian dari tugas utama Batalyon Zeni Tempur 16 dalam bidang konstruksi.
“Untuk itu, kami maksimalkan personel yang ada untuk dapat bisa maksimal dalam melaksanakan pembuatan jembatan,” paparnya.
Ia menambahkan, pengerjaan di lapangan juga melibatkan bantuan personel dari satuan lain untuk pekerjaan yang membutuhkan tenaga lebih banyak.
“Jadi, dengan arahan dari kami, mereka juga ikut membantu. (Prajurit) infanteri pun bisa membantu dalam proses pembuatan jembatan tersebut,” bebernya.
(red)































